Menjaga Keutuhan Alam Ciptaan

IMG_20150205_144517

 

MISAL: UPACARA ADAT MELINDUNGI TANAH DAN HUTAN ADAT MAHUZE BESAR

Setelah dilakukan “pemalangan” atau sasi tanah adat marga Mahuze Besar di Muting, ikatan keluarga Mahuze Besar juga melakukan upacara adat “Misal” pada tanggal 5 Februari 2015. Upacara adat ini dilakukan untuk menyelamatkan tanah, hutan, dusun dan sumber penghidupan dari pengaruh investasi perkebunan kelapa sawit yang makin menggelisahkan masyarakat hukum adat. Upacara adat ini juga untuk menindaklanjuti kegiatan pemberkatan tanah dan hutan Muhumit serta menanggapi berbagai persoalan tentang hak ulayat tanah masyarakat hukum adat keluarga Marga Mahuze Besar.

Upacara adat “Misal” dilakukan di “Hutan Suci” atau Muhumit dari marga Mahuze Besar sebagai rasa hormat kepada para leluhur dan moyang-moyang: Tete Kenepe, Tete Dayo, dan Tete Yonggos Badeno. Ketua Adat Malind Bian Anim, Barnabas Mahuze, dalam penuturannya di hadapan anggota marga Mahuze Besar mengungkapkan, “Semua manusia di Bian ini keluar dari tanah ini. Tempat ini disebut ‘Muhumit’ karena Muhu yang bawa manusia datang di tanah ini. Kita semua dari sini. Kami punya hak di atas tanah ini dan kami cinta tanah ini. Bapa dorang berani, besok kamu anak-anak juga harus berani. Yang penting kita bicara di atas tanah kita punya. Bukan orang lain punya. Kami punya hak.”

Klemens Mahuze, anggota marga Mahuze Besar mengungkapkan bahwa kegiatan yang dilakukan ini merupakan salah satu contoh untuk marga-marga lain. Bahkan, pihak Gereja juga diharapkan dapat membantu marga-marga lain sehingga kegiatan ini bisa berkelanjutan untuk menyelamatkan tanah masyarakat adat dan kekayaan yang ada di atas tanah itu. Dengan demikian,generasi yang akan datang tidak akan kehilangan hak dan mereka tidak disingkirkan. Klemens juga mengingatkan anggota marga Mahuze Besar untuk tidak bersatu hanya karena uang tetapi bersatu untuk kemajuan. “Saya mengharapkan kepada saudara-saudara saya, saya mau kasih tahu bahwa hal yang kami buat ini tidak boleh takut. Ini bukan hal yang sikap yang kurang baik, tapi ritual yang kami buat saat ini bukan berarti kita menentang dengan siapa pun. Tapi tidak. Kami buat ini guna untuk kami bertahan dan kami mau menyelamatkan kami punya hutan. Untuk kamu. Jangan kita bersatu karena uang. Kami mau maju, dan kami percaya Injil.”

Masyarakat adat marga Mahuze Besar tetap berkomitmen untuk terus berusaha dan berjuang mempertahankan tanah adat mereka. Karena di tanah ini masyarakat punya aset yang cukup banyak. Masih ada rotan, masih ada babi, kasuari, tuban, kayu bakar, dan lain-lain. Klemens mengingatkan, “Jangan kita dengar ketua marga sudah ambil uang, datang. Setelah itu bubar. Uang itu akan habis. Tapi yang kita pikirkan itu kita punya anak-anak dan cucu-cucu kita. Kalau mereka (perusahaan) sudah ambil tanah ini, besok kita mau ke mana? Nanti mereka injak-injak kita dan kami nonton saja.”

Leave a comment

Prioritas Program

Chart
  • 01 Penegakan keadilan dan Demokratisasi
  • 02 Membangun Budaya Damai
  • 03 Keutuhan Alam Ciptaan
  • 04 Perlindungan Perempuan dan Anak

Partner Links

  • Link Mitra 1
  • Link Mitra 2
  • Link Mitra 3
  • Link Mitra 4
  • Link Mitra 5
  • Link Mitra 6