GALERI PHOTO SKP

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Tanggal 28 – 30 Agustus 2017, dilaksanakan Pelatihan Paralegal bagi Seksi KPKC Paroki
Se-Dekenat Muting, atas kerjasama KKPPMP – KWI dan SKP KAME. Tempat pelatihan di
Gedung Serbaguna Paroki Muting. Sebagai fasilitator Pastor Christian Siswantoko, Pr
, Bpk Tigor Nainggolan, dan Pastor Anselmus Amo, MSC. Tuan rumah kegiatan ini Pastor Niko
Rumbayan, MSC. Berikut beberapa foto-fotonya.

PERINGATAN HUT REPUBLIK INDONESIA KE 72 DI DISTRIK KURIK

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

 

SKP KAME-Tidak lengkap bila saat HUT RI tidak ada kemeriahan, sebagaimana aneka ragam lomba untuk menyambut HUT Kemerdekaan RI, sudah menjadi tradisi turun temurun, termasuk yang diadakan di tingkat Distrik Kurik. Beberapa kegiatan, pertandingan, dan perlombaan diadakan untuk memeriahkannya. Warga dari kampung-kampung pun tidak ketinggalan ambil bagian.

Lomba-lomba tersebut diantaranya cerdas cermat, futsal, gerak jalan, voli, wayase, dan lain-lain. Selain berbagai lomba dan pertandingan, juga ada pawai budaya yang diikuti oleh siswa-siswa TK/PPAUD, SD, SMP, SMA, paguyuban-paguyuban masyarakat, dan masyarakat umum.

Pada tanggal 17 Agustus, bertempat di halaman Kantor Distrik Kurik, dilaksanakan upacara bendera yang diikuti oleh pelajar, ASN, TNI/ Polri, BUMD, aparat kampung, dan perwakilan masyarakat.

Upacara bendera tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Distrik Kurik, Ibu Viola B. Kandam. Dalam arahannya ibu Kepala Distrik Kurik menyampaikan agar semua unsur yang ada di Distrik Kurik harus bergandengan tangan dan terlibat secara aktif dalam pembangunan.

Germanus Yolmen, Warga Kampung Wonorejo, Distrik Kurik, 25/8/2017

PERINGATAN 112 TAHUN GEREJA KATOLIK MASUK PAPUA SELATAN

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Senin, 14 Agustus 2017, ribuan umat Katolik di wilayah Keuskupan Agung Merauke tumpah ruah mengikuti misa bersama dalam rangka memperingati 112 tahun Gereja Katolik masuk Papua Selatan. Ya, 112 tahun yang lalu dua orang pastor (P. Henri Nollen MSC, P. Philipus Braun MSC) dan dua orang bruder (Bruder Adrian van Roesel MSC dan Bruder Melchior Oomen MSC) tiba di Merauke untuk mewartakan kabar suka cita.

Bertempat di Kompleks Ziarah Patung Hati Kudus Yesus -sebelah Bandara Mopah, Merauke, misa bersama ini dipimpin oleh selebran utama Uskup Agung Merauke, Mgr. Nicholaus Adi Seputra, MSC bersama puluhan pastor.

Hadir dalam perayaan ini, Bupati Merauke, Sekda Merauke, dan Tokoh Katolik Papua Selatan Bapak Johanes Gluba Gebze, serta tamu undangan lain.

Uskup Agung Merauke, Mgr Nicolaus Adi Seputra MSC, menyampaikan terima kasih kepada mereka yang datang di wilayah Selatan Papua menyebarkan kabar suka cita. Beliau juga mengajak semua yang hadir, agar segala persoalan yang terjadi akibat perkembangan zaman dapat diselesaikan melalui dialog.

Bupati Merauke, Frederikus Gebze, dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada para misionaris Hati Kudus Yesus serta komunitas dan ordo lain yang menyebarkan agama katolik. Pihaknya juga menyampaikan agar gereja dan pemerintah harus bergandengan tangan membangun umat.

Acara ini berlangsung sangat meriah diiringi suguhan berbagai lagu dan tari-tarian. Ametur Ubique Terrarum Cor Iesu Sacratissimum in Aeternum (Semoga Hati Kudus Yesus di Kasihi di Seluruh Dunia).

Hendro Subiakto, KOMSOS Keuskupan Agung Merauke, 16/8/2017

NO PINANG, NO KERJA: TIDAK ADA PINANG, PEKERJAAN TIDAK SELESAI

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Seorang warga mengunyah pinang | photo otonomi.co.id

SKP KAME- Mengunyah pinang adalah salah satu kebiasaan yang senang dilakukan oleh sebagian penduduk Indonesia, secara khusus masyarakat Papua. Sudah jadi kebiasaan kalau tidak makan pinang itu ada yang kurang. Ada istilah lebih baik tra sarapan pagi dari pada tidak kunyah pinang. Pinang su jadi kebiasaan yang tidak terlepaskan bagi sebagian masyarakat asli Papua.

Tidak ada yang salah memang dari aktivitas mengunyah pinang. Malah ada beberapa hal positif yang kita dapatkan dari kebiasaan mengunyah pinang. Di antaranya:

  1. Meningkatkan hubungan kekerabatan. Sambil makan pinang, sambil duduk cerita, ini tentu akan semakin membuat hubungan antara dua orang yang duduk makan pinang bersama semakin akrab.
  2. Mengatasi mulut kering. Orang yang menyirih biasanya mulutnya tidak kering hal ini di sebabkan oleh kinerja buah pinang yang membuat kelenjar ludah menjadi keluar terus menerus. Ludah ini akan mencegah orang terserang penyakit seperti disentri.
  3. Menguatkan gigi dan gusi.
  4. Obat cacing untuk ternak. Jika buah pinang dicampur dengan bahan-bahan seperti kunyit dapat diolah menjadi obat cacing untuk ternak seperti ayam, itik, dll.
  5. Mengobati luka, dan masih banyak kegunaan lainnya.

Kalau-pun ada hal negatif dari sisi kesehatan, ya bisa menyebabkan kanker mulut. Itupun kalau dikonsumsi secara berlebihan. Ini su terbukti karena ada beberapa warga yang kena kanker mulut karena makan pinang secara berlebihan.

Hal negatif lain yang sa lihat mulai muncul itu kalau tidak ada pinang orang tidak mau kerja. Istilahnya itu ‘No Pinang, No Kerja’.

Fenomena ini sa rasa mengurangi kualitas manusia Papua. Gotong royong, semangat kebersamaan dalam bekerja itu diukur dari ada tidaknya pinang dan tembakau lempeng. Bahkan di lingkungan gereja juga begitu. Kalau kerja bakti atau apapun kegiatan gereja kalau tidak ada pinang, hanya sedikit orang saja yang datang. Jadi ‘No Pinang, No Haleluya’. Fenomena ini kalau sa boleh bilang ‘ngeri-ngeri sedap’.

Padahal orang tua-tua dulu ajar tidak begitu. Mo ada pinang ka tidak, bekerja itu jadi salah satu hal utama supaya bisa terus hidup. Apalagi kalau pekerjaan itu harus dilakukan secara bersama-sama. Jadi semangat kekeluargaan dan gotong royong itu su jadi kebiasaan dalam hidup bersama. Hanya saja, sekarang di jaman yang makin maju ini justru terjadi kemunduran. Pinang tra ada pekerjaan juga macet.

Apa yang sa sampaikan di atas bukan berarti mo bilang kalau kebiasaan makan pinang itu tidak baik. Sejatinya kebiasaan ini baik, tapi kalau dilakukan secara berlebihan justru efeknya seperti candu. Orang kalau su kencanduan sesuatu untuk kasih normal kembali akan susah.

Soal ini sepertinya sepele, tapi terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Kitorang tidak mau saudara-saudara kita mati gara-gara kena kanker mulut akibat konsumsi pinang secara berlebihan. Kitorang tentu tidak ingin pinang hanya jadi alasan orang untuk datang bekerja, ‘No Pinang, No Kerja’. Untuk itu, kiranya hal ini menjadi perhatian kita bersama bahkan perlu dipikirkan bagaimana cara mengatasi hal ini.

Martinus, Warga Merauke, 12/6/2017

 

 

CARI DANA BANGUN GEREJA, UMAT LELANG BERBAGAI MAKANAN

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Rabu, 28/6/3027, Panitia bersama umat
melakukan penggalangan dana pembangunan
Gereja Katolik Santo Yakobus, SP 7 Kampung
Hidup Baru, Paroki Kuper. Aksi penggalangan
dana ini dipimpin langsung oleh ketua panitia
Bapak Hendrikus Sare. Aksi ini yang dilakukan
dengan melelang beberapa jenis menu mulai dari
daging ayam, ikan bakar, dan lainnya.
Kegiatan penggalangan dana yang dilaksanakan
di halaman Gereja Katolik SP 7 ini dihadiri oleh
berbagai undangan dari Kota Merauke.
Sebelumnya memang gedung gereja sudah
mulai dibangun beberapa tahun yang lalu, tapi
belum selesai karena terkendala. Terutama
bagian atapnya. Salah satu cara yang ditempuh
yaitu dengan menjalankan iuran setiap bulan
Rp 25.000, hanya saja tidak semua umat mau
sumbang. Hal ini tidak lepas dari pendapatan
umat yang tidak tentu. Untuk itu, kegiatan
ini diadakan kembali untuk menambah dana
yang ada supaya pembangungannya dapat
terselesaikan.

Puji Tuhan dari hasil kegiatan ini dana yang
terkumpul 100 juta lebih. Mudah-mudahan
pembangunan Gedung Gereja Katolik Stasi
Santo Yakobus SP 7 dapat terselesaikan.
Agus Muda, Umat Stasi St. Yakobus SP 7, 29/6/2017

SUDAH BERTAHUN-TAHUN TIDAK ADA GURU DI KAMPUNG METO

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Paulinus Kemon, dari kampung Meto, Boven Digoel

SKP KAME- Tatapannya tajam, memandang jauh ke depan, seolah ingin berkata,”Bagaimana masa depanku kelak?”.

Paulinus Kemon, nama anak itu. Usianya 10 tahun. Ia tinggal di Kampung Meto – sebuah kampung di tepi Sungai Digoel, Kab. Boven Digoel.

Beberapa saat yang lalu ia ditanya dasar-dasar berhitung dan membaca oleh pamannya yang datang dari Kota Merauke. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan pamannya itu.

Ternyata, sudah beberapa tahun ini, sekolah yang tak jauh dari rumahnya itu ditinggal pergi oleh para guru.

Padahal ada perumahan untuk guru-guru tinggal. Pamannya sangat sedih mengetahui kondisi pendidikan di kampungnya saat ini. Padahal dulu, beliau sekolah dan menamatkan pendidikannya di Kampung Meto.

Untuk sampai ke Kampung Meto dari Asikie, dapat ditempuh menggunakan perahu motor tempel selama 2 – 3 jam menyusuri Sungai Digoel. Akses transportasi ke Kampung Meto juga terbilang lancar karena setiap hari ada perahu motor tempel yang bolak-balik Asikie – Meto.

Sungguh sebuah ironi jika kampung yang tidak terlalu jauh dari pusat keramaian, akses transportasi tidak begitu sulit, fasilitas pendidikan sudah memadai (walaupun belum dapat dikatakan sempurna), tapi anak-anak tidak sekolah gara-gara tidak ada guru.

Ini adalah salah satu potret pendidikan di Tanah Papua

Pastor Felix Amias MSC, 27/5/2017

Sang Gembala Yang Berbeda Dengan Para Pendahulunya

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Potret Paus Fransiskus

SKP KAME- Pada sebuah misa pagi, Paus Fransiskus kembali melontarkan kritik tajamnya untuk para jemaat Katolik Roma. Ia mengatakan bahwa banyak para orang Katolik yang bersikap hipokrit, berkehidupan ganda.

“Ada orang yang mengatakan ‘saya sangat Katolik, saya selalu pergi ke Misa, saya termasuk ke dalam perkumpulan ini dan itu’,” kata pemimpin 1,2 miliar umat Katolik Roma sedunia ini seperti dikutip The Guardian.

Menurut Paus, seharusnya orang-orang itu juga mengatakan, “hidup saya tidak Kristen, saya tidak membayar karyawan saya dengan gaji yang layak, saya mengeksploitasi orang, saya melakukan bisnis kotor, saya mencuci uang, [saya menjalani] kehidupan ganda.” Jika ada banyak orang Katolik yang punya kehidupan ganda macam ini, menurut Paus, mereka akan menyebabkan skandal. “Berapa kali kita mendengar orang mengatakan ‘jika orang [macam] itu beragama Katolik, mending jadi ateis saja’.”

Ucapan Paus Fransiskus seketika membikin heboh. Dan, bukan kali itu saja ia mengatakan hal-hal semacam itu dalam khotbah-khotbahnya.

Paus Fransiskus yang Kontroversial

Paus Francis atau Paus Fransiskus, terlahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio pada 17 Desember 1936, di Buenos Aires, Argentina. Orangtuanya adalah imigran dari Italia yang kemudian bermukim di Argentina.

Menduduki jabatan sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik Roma sedunia sejak 13 Maret 2013 menggantikan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri, ia adalah paus ke-266. Ia adalah paus pertama dari Ordo Yesuit, sekaligus paus pertama dari benua Amerika.

Sebagai Paus non-Eropa kedua setelah Paus Gregorius III dari Suriah yang pernah memimpin, Bergoglio memilih Francis sebagai nama kepausannya untuk menghormati Santo Fransiskus dari Assisi.

Fransiskus tidak hanya terkenal dengan berbagai perkataan yang menyiratkan pemikirannya dan untuk Gereja Katolik. Dalam tindakan, ia juga tidak kalah dianggap berani lantaran sangat berbeda dengan kultur para Paus pendahulunya.

Akhir Maret, tidak lama setelah dilantik menjadi Paus, ia mengunjungi Casal del Marmo, sebuah penjara remaja. Di sana, ia membasuh dan mencium kaki 12 penghuni penjara yang rata-rata masih muda dalam misa pembasuhan kaki Kamis Putih menuju Paskah. Bahkan, dua di antaranya adalah Muslim Serbia.

“Siapapun yang menjabat di posisi tinggi, justru harus melayani orang lain,” kata Paus saat kemudian memulai misa Kamis Putih yang memang selalu terdapat ritual pembasuhan kaki layaknya Yesus ketika membasuh kaki ke-12 murid-muridnya.

Dua bulan berselang, Paus dalam sebuah homilinya pada misa Rabu mengatakan bahwa ateis sekalipun harus berbuat baik dalam pandangannya, dan tetap mendapat kemurahan dan rahmat dari Tuhan.

Paus Fransiskus: Kemiskinan Butuh Tindakan, Bukan Kata-Kata Kosong

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Ilustrasi anak-anak yang orang tuanya kurang mampu

SKP KAME- Orang tidak bisa duduk santai saja dan bersikap acuh tak acuh atau tidak mau peduli terhadap
meningkatnya kemiskinan di dunia, sementara sekelompok kecil orang mengumpulkan “kekayaan yang
luar biasa,” kata Paus Fransikus
“Tuhan menciptakan langit dan bumi untuk semua, namun sayangnya beberapa orang memasang
penghalang, tembok dan pagar, mengkhianati karunia asli yang dimaksudkan untuk semua umat
manusia, tanpa ada yang dikecualikan,” kata Paus Fransiskus pada peringatan Hari Kaum Miskin Dunia
yang pertama kali seperti dilaporkan Catholic News Service.
Peringatan yang baru didirikan dan periode refleksi dan tindakan yang mendahului kegiatan tersebut
dimaksudkan untuk membantu orang Kristen mengembangkan dan mempertahankan gaya hidup yang
lebih konsisten dan tulus yang dibangun di atas semangat berbagi, kesederhanaan dan kebenaran Injil,
kata paus dalam pesan yang disampaikan pada tanggal 13 Juni, Pesta St. Anthony dari Padua.
Hari Kaum Miskin Sedunia- yang ditandai setiap tahun pada hari Minggu ke-33 masa biasa- akan
dirayakan pada 19 November tahun ini.
Ada begitu banyak bentuk kemiskinan material dan spiritual yang meracuni hati manusia dan
membahayakan martabat mereka, kata paus.
Terlalu sering orang Kristen mengambil “cara berpikir duniawi” dan lupa untuk mengarahkan pandangan
dan tujuan mereka terfokus pada Kristus, yang hadir dalam diri mereka yang remuk redam dan rentan.
“Kemiskinan memiliki wajah wanita, pria dan anak-anak yang dieksploitasi oleh kepentingan dasar,
hancur oleh intrik kekuasaan dan uang,” katanya.
“Tragisnya, pada zaman kita saat ini, meski kekayaan mewah banyak menumpuk di tangan beberapa
orang istimewa, yang seringkali terkait dengan aktivitas ilegal dan eksploitasi martabat manusia yang
mengerikan, ada pertumbuhan kemiskinan yang memalukan dalam masyarakat luas di seluruh dunia
kita,” kata Paus Fransiskus.
“Dihadapkan dengan kondisi seperti ini, kita tidak bisa tetap pasif, apalagi menyembunyikan diri,” kata
paus..
Sumber: indonesia.ucanews.com

PERNYATAAN PAUS FRANSISKUS

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Paus Fransiskus melayani permintaan seorang remaja untuk foto bersama

SKP KAME-Dalam khotbahnya itu Paus Fransiskus mengatakan:

“Tuhan menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya, dan kita adalah citra Tuhan, dan Dia melakukan yang baik dan kita semua memiliki perintah ini di hati, yaitu: berbuat baik dan tidak berbuat jahat.

Kita semua. ‘Tapi bapa, orang ini bukan Katolik! Dia tidak bisa berbuat baik.’ Ya, dia bisa … “Tuhan telah menebus kita semua, dengan Darah Kristus:. Kita semua, bukan hanya umat Katolik. Semua orang! ‘Bapa,[bagaimana dengan] para ateis?’ Bahkan ateis. Semua orang!”.. Kita pasti bertemu satu sama lain, dengan berbuat baik. ‘Tapi saya tidak beriman, Bapa, saya seorang ateis!’ Berbuat baiklah, kita akan bertemu di sana,” ungkapnya seperti dilansir Huffington Post.

Pernyataan ini kemudian menimbulkan spekulasi beragam baik dari kalangan Katolik maupun non-Katolik. Bulan Agustus 2013, Paus Fransiskus membalas surat dari Eugenio Scalfari, seorang pendiri surat kabar La Repubblica mengenai posisi orang non-Katolik dan dirinya yang seorang ateis. Dalam jawabannya, Paus menuliskan “Anda bertanya kepada saya apakah Tuhan orang Kristen mengampuni orang-orang yang tidak percaya dan yang tidak mencari iman.

Saya mulai dengan mengatakan—dan ini adalah hal yang mendasar—bahwa rahmat Tuhan tidak memiliki batas jika Anda pergi ke Dia dengan hati yang tulus dan menyesal. Masalah bagi mereka yang tidak percaya pada Tuhan adalah untuk mematuhi hati nurani mereka,” tulisnya.

Paus menambahkan bahwa dosa terjadi ketika manusia tidak mengikuti nuraninya, seperti dikutip The Independent.

Ucapan Paus lain yang paling diingat adalah pembelaannya terhadap Islam dari pengidentikan dengan perilaku terorisme. Dalam berbagai pemberitaan dan rekaman video yang banyak beredar, Paus Fransiskus menegaskan bahwa Islam tidak bisa disamakan dengan terorisme.

“Pada hampir semua agama selalu ada kelompok kecil fundamentalis. Kita pun punya kelompok macam itu,” ujar Paus. “Jika saya harus berbicara tentang kekerasan dalam Islam, saya pun harus berbicara tentang kekerasan dalam Kristen,” tambahnya. “Setiap hari saya membaca berita tentang kekerasan yang terjadi di Italia. Seseorang membunuh pacarnya, yang lain membunuh mertuanya, dan mereka adalah orang-orang yang dibaptis sebagai pemeluk Katolik,” ungkap Paus lagi.

Bersambung ke edisi mendatang. . . .

TEMPAT TINGGAL JAUH, ANAK SEKOLAH TINGGAL DI ASRAMA

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Salah satu tantangan pendidikan bagi warga di kampung-kampung pedalaman Papua adalah jauhnya jarak tempuh dari rumah ke sekolah. Anak-anak tidak jarang harus berjalan

kaki berkilo-kilo meter jauhnya atau harus menyeberangi sungai atau rawa.

Beberapa cara ditempuh, salah satunya adalah dengan membangun asrama bagi para siswa di dekat sekolah.

Di Kampung Waan, Distrik Waan ada sebuah asrama yang ditinggali oleh anak-anak yang bersekolah di SMP Persiapan Negeri Waan. Para siswa yang tinggal di asrama ini cukup banyak, ada lebih dari 200 anak yang berasal dari kampung-kampung di sekitar Distrik Waan seperti Kampung Tor, Kladar, Sabon, Konorau, Sibenda, dan Wetau. Di Kampung-kampung tersebut belum ada sekolah lanjutan tingkat pertama, sehingga mereka yang mau lanjut sekolah harus ke pusat Distrik Waan.

Sosok yang berperan penting menjaga dan mendidik anak-anak asrama Waan adalah bapa asrama bernama Bapak Antonius Leo. Beliau selain mengurusi anak-anak juga sebagai seorang guru kontrak di SD YPPK Waan.

Asrama ini sendiri berdiri tahun 2012 dengan model los. Ada 2 unit bangunan untuk putra dan putri.

Sebagaimana sebuah asrama, sudah pasti ada aturan untuk membentuk karakter anak seperti bangun pagi tepat waktu, masak, makan, mandi, sekolah, belajar, dan masih banyak kegiatan lain sampai waktu tidur tiba. Sedankan untuk makan sehari-hari diatur bergilir oleh bapa asrama dibantu oleh seorang guru SMP Persiapan Negeri Waan bersama anak-anak asrama.

Aktivitas sore hari biasanya diisi banyak kegiatan, salah satunya adalah berkebun. Anak-anak asrama menanam berbagai jenis buah dan sayur seperti kacang panjang, rica, tomat, dan lain-lain. Berbagai jenis buah dan sayur ini juga dikonsumsi sendiri.

Keberadaan asrama ini sangatlah penting karena anak-anak dapat bersekolah, tanpa perlu ke Kimaam, Okaba, atau ke Merauke.

Yoseph Laba, Guru Kontrak SMP Persiapan Negeri Waan, 27/5/2017

Prioritas Program

Chart
  • 01 Penegakan keadilan dan Demokratisasi
  • 02 Membangun Budaya Damai
  • 03 Keutuhan Alam Ciptaan
  • 04 Perlindungan Perempuan dan Anak

Partner Links

  • Link Mitra 1
  • Link Mitra 2
  • Link Mitra 3
  • Link Mitra 4
  • Link Mitra 5
  • Link Mitra 6