LEBIH BAIK KERJA DARI PADA BERSUNGUT-SUNGUT

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Ini hasil refleksi ketika ke kampungku Meto – sebuah kampung kecil di pinggir Sungai Digoel, Papua.

Banyak uang dikucurkan ke kampung tapi seperti sirna tak berbekas. Bahkan uangnya untuk apa saja, banyak warga yang tidak tahu.

Ada gedung sekolah dan pustu tapi tak ada aktifitas. Ada petugasnya, bahkan orang Papua sendiri, tapi tak di tempat sebagai guru dan petugas kesehatan. Makan gaji tanpa pernah merasa bersalah dan berdosa. Kritik-kritik lain ditujukan pada pemerintah, perusahaan, gereja sendiri, dan lain-lain.

Saya mengatakan kepada masyarakat di kampungku sebagai berikut:

  1. Jangan menjadi orang yang tak tahu kerja tapi banyak bicara. Boleh kritik orang, tapi coba kerja sendiri, apa menjadi lebih baik?
  2. Terlalu banyak menuntut dan mempersalahkan orang lain, padahal sendiri tak kerja. Memangnya orang lain yang mengubah hidupmu? Yang bisa mengubah hidupmu ya dirimu sendiri, orang lain hanya membantu, tapi kalau dirimu sendiri tak mau cukup berusaha untuk berubah ya salahmu sendiri to?
  3. Mengaku orang Kristen tapi tukang marah orang dan pendendam. Apa Yesus ajar begitu? Jangan katakan bahwa iman itu di gereja dan dunia tidak. Ingat bahwa dunia diciptakan oleh Tuhan dan dunia milik Tuhan, itulah sebabnya iman harus dipraktekkan dalam dunia. Kalau perilaku dalam dunia bertentangan dengan iman, maka itu pasti kuasa setan.

 

Kalau masih memiliki tiga sifat dan perilaku di atas, maka jangan pernah bermimpi untuk berubah menjadi lebih baik. Lebih baik mari kita mulai kerja, kerja, dan kerja. Tuhan memberkati kita semua.

Felix Amias, Biarawan MSC

TERIMA KASIH PMKRI CABANG MERAUKE

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Fabiana, seorang pedagang di Pasar Mopah Fabiana, seorang pedagang di Pasar Mopah

SKP KAME-Terima kasih karena ada anak-anak muda yang bantu kami buat tempat jualan. Selama ini kami ini seperti dianaktirikan, tidak ada perhatian sama sekali. Kalau hujan turun jalan masuk pasar ini terendam air, pembeli juga sedikit sekali kalau begitu. Selain itu, kami punya jualan pasti terendam air, busuk, tidak laku, dan akhirnya buang begitu saja.

Mama mau cari papan dan bikin baik tempat jualan ini tapi tidak ada uang. Hasil jualan yang tidak seberapa itu habis dipakai untuk makan minum dan kebutuhan keluarga.

Kami punya los ini memang pemerintah yang buat beberapa tahun lalu. Tapi sejak Pasar Wamanggu selesai, kami di sini tidak lagi diperhatikan.

Terima kasih PMKRI Merauke, yang selama beberapa hari ini bantu mama dengan pedagang-pedagang lain di sini. Mereka siapkan kayu sendiri baru mereka rame-rame bikinkan kami tempat jualan. Mama tidak bisa balas kebaikan kalian, tapi Tuhan tidak tutup mata. Semoga kalian tetap terus dapat menjadi saluran berkat bagi orang kecil, biar bantuan kecil, tapi manfaatnya sangat dirasakan.

Fabiana, Pedagang Pasar Mopah, 21/3/2018

ELADPPER ADAKAN DISKUSI PEREMPUAN DAN KEDAULATAN PANGAN

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Perkumpulan Lembaga Advokasi Peduli Perempuan melakukan diskusi tentang Perempuan dan Kedaulatan Pangan dalam rangka Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret. Diskusi ini sendiri baru terlaksana pada 17 Maret bertempat di Biara MSC, Merauke.

Sebanyak 30 peserta perwakilan organisasi yang fokus di bidang perempuan, pemuda, dan juga lingkungan.

Diskusi diawali dengan pemutaran film ‘Sa Ada Di sini’ – sebuah film dokumenter hasil kerja sama Perkumpulan eL-AdPPer, SKP KAMe, dan AJAR (Asian Justice Right) Indonesia yang juga tergabung dalam PWG (Papuan Working Group).

Diskusi ini berangkat dari krisis pangan yang terjadi akhir-akhir ini akibat kegiatan investasi skala besar yang membabi-buta, di mana perempuan juga menjadi korban di dalamnya. Mereka tersandera kebijakan pembangunan dalam hal pangan. Sagu dan sumber-sumber pangan lokal tidak lagi menjadi komoditi pangan utama, sehingga dengan kata lain, mereka tidak lagi berdaulat atas pangan.

Peserta cukup antusias mengikuti diskusi. Besar harapannya peserta peduli pada lingkungan, sehingga juga memberi dampak agar masyarakat berdaulat pangan. Rencana tindak lanjut dari diskusi ini adalah akan ada diskusi-diskusi lanjutan di tingkat akar rumput dan juga lingkungan kampus yang ada di Merauke.

Betty Gebze, Direktris Perkumpulan eL-AdPPer, 20/3/2018

PLBN SOTA RENCANA DIBANGUN, WARGA SENANG

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Kampung Sota merupakan garis terdepan NKRI yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Papua New Guinea. Kampung Sota merupakan ibukota Distrik Sota, berjarak 80 Km dari pusat Kota Merauke.

Sebagai salah satu garis paling depan wajah NKRI, Kampung Sota juga menjadi perhatian pemerintah pusat. Rencananya, pemerintah akan bangun Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Sota. Nantinya aktivitas keluar masuk negara RI – PNG akan melalui jalur ini.

Menurut Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono saat berkunjung ke kitorang pu Kampung Sota, Pos Lintas Batas ini akan mulai dikerjakan pada bulan Juni 2018. PLBN Sota akan terdiri dari zona inti, zona sub inti dan zona pendukung. Menurut target akan selesai pada 2019. PLBN Sota rencananya juga akan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti perumahan pegawai, pemukiman penduduk, hingga pasar agar penduduk di sini bisa berjualan.

Semoga niat baik pemerintah ini bisa segera terwujud agar semakin menggerakkan roda perekonomian warga Kampung Sota.

Urbanus Bohoji, Warga Kampung Sota, 19/3/2018

USKUP PANGKAL PINANG KUNJUNGI TANAH KELAHIRANNYA MERAUKE

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Uskup Pangkal Pinang Mgr. Adrianus Sunarko, OFM

SKP KAME-Uskup Pangkal Pinang, Mgr. Adrianus Sunarko, OFM yang baru saja ditahbiskan tanggal 23 September 2017 mengunjungi tanah kelahirannya, Merauke, Sabtu (10/3) bersama beberapa kerabatnya. Kedatangannya disambut Uskup Agung Merauke, Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC bersama para biarawan-biarawati.

Esok harinya, Minggu (11/3) Mgr. Adrianus Sunarko OFM bersama Mgr. Nicho Adi Seputra MSC, dan beberapa orang pastor meminpin misa di Gereja Katedral St. Fransiskus Xaverius, Merauke. Misa tersebut sangat bernuansa Indonesia karena di dalamnya diisi dengan berbagai etnis, termasuk Papua dan Jawa.

Setelah selesai misa, Mgr. Narko – panggilan hangat Mgr. Adrianus Sunarko, OFM bertemu dan beramahtamah dengan umat. Beliau berkata supaya bisa sukses, seseorang harus giat bekerja,

berusaha, dan yang paling penting tidak lupa untuk selalu dekat dengan Tuhan lewat doa. Uskup Narko tidak pernah menyangka akan dipilih sebagai seorang uskup, namun karena kuasa Tuhan dirinya menerima mandat sebagai pelayan umat tersebut.

Waktu masih kecil dan bersekolah di Merauke, orangtuanya dulu sempat memelihara sekawanan kambing, setiap pulang sekolah Mgr. Narko selalu ikut menggembalakan ternak kambing hingga menjelang sore harinya, baik sendirian maupun bersama teman-temannya. Hingga pada akhirnya eh tak disangka-sangka saya menjadi gembala umat sesungguhnya. Ungkapnya dalam canda gurau.

Mgr. Adrianus Sunarko, OFM lahir di Merauke, 7 Desember 1966. Ayahnya bernama Sumedi, dan ibunya Suminah.

Mgr. Sunarko, OFM mempunyai seorang kakak yang juga menjadi seorang imam bernama Laurentius Sutadi, saat ini menjabat Vikaris Jenderal Keuskupan Ketapang.

Mgr. Narko, menamatkan pendidikannya di SD YPPK Fransiskus Xaverius II dan sempat bersekolah di SMP YPPK Yohanes XIII, Merauke sebelum pindah ke Sedayu, Yogyakarta tahun 1979.

Di Sedayu, Mgr. Narko melanjutkan jenjang pendidikan SMP yang sempat terhenti dari Merauke sampai selesai dan masuk Seminari St. Petrus Kanisius Mertoyudan – Jawa Tengah lalu memilih menjadi anggota Fransiskan. Setelah itu beliau kuliah di Jakarta dan Yogyakarta. Ditahbis menjadi Pastor tahun 1995 kemudian melanjutkan studi di Jerman sampai tahun 2002.

Tahun 2003 tugas sebagai dosen di Jakarta sampai tahun 2017 diangkat menjadi Uskup dan mempunyai Motto tahbisan Uskup LAETENTUR INSULAE MULTAE “HENDAKNYA PULAU-PULAU BERSUKACITA (Maz 97:1).

Freddy Hendro, Umat Paroki Kelapa Lima Merauke, 13/4/2018

HASIL BUMI MELIMPAH DI KAMPUNG POO

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Kampung Poo, Distrik Jagebob ini Tuhan melimpahkan hasil bumi seperti sagu, ikan, kelapa, pisang, dan masih banyak lagi yang lain kepada kami.

Sagu 1 karung ukuran 15 Kg kalau dijual harganya Rp 100.000. Kami biasa bawa turun jual di kota sana (Pasar Wamanggu).

Untuk olah satu pohon sagu yang sudah ditebang, waktu kerjanya bisa 2 minggu sampai 1 bulan. Tidak setiap hari kami kerjakan, kadang satu hari cari ikan, besok baru lanjut kerja sagu lagi. Proses menghasilkan sagu yang siap jual dari tebang, pukul, peras, sampai selesai kami kerjakan dengan manual saja, tidak pakai alat-alat modern.

Makanan pokok kami beras, sedangkan sagu hanya untuk tambahan saja kalau misalnya beras kurang. Harga beras sendiri di Kampung Poo harganya Rp 12.000 di kios.

Kalau mau ke kota kami biasa naik bis DAMRI. Sekali jalan bayar Rp 50.000 jadi kalau pergi pulang Rp 100.000. Waktu tempuh dari kampung ke kota 2 jam. Kalau ke kota, kami biasa tidak sekali pergi langsung pulang, tapi biasa menginap di rumah keluarga. Kalau sagu su habis baru kami pulang ke kampung.

Selain sagu, hasil bumi yang cukup melimpah dari Kampung Poo adalah ikan. Apalagi kalau bulan Maret-April seperti sekarang ini, ikan sedang melimpah. Kami biasa pancing kalau tidak tangkap pakai jaring. Jenis ikan yang banyak ya gastor, betik, dan mujair. Harganya Rp 10.000 per tusuk. Ikan biasa kami jual di kampung saja, tapi ada juga orang di luar Kampung Poo datang beli di sini.

Hasil bumi lain itu kelapa dan pisang. 1 buah kelapa harganya Rp 1.000. Kalau pisang 1 sisir Rp 5.000, sedangkan kalau 1 tandan besar Rp 20.000. Jenis-jenis pisang yang biasa dijual itu pisang raja dan dewaka. Kelapa dan pisang ini biasa ada orang datang dari luar beli di sini.

Ruth Makarjai & Adriana Belojai, Warga Kampung Poo, 28/3/2018

PELETAKAN BATU PERTAMA GOA MARIA PAROKI SANG PENEBUS

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Pastor Cristofel Fredy Andries, MSC selaku Pastor Paroki Sang Penebus, Kampung Baru bersama pengurus dewan paroki, perwakilan suster-suster dari tarekat TMM, para tokoh umat, dan Orang Muda Katolik secara resmi meletakkan batu pertama pembangunan Goa Maria Ratu Rosario Suci, Sabtu 24 Maret 2018.

Peletakkan batu pertama ini bertepatan dengan Hari Raya Maria Menerima Kabar dari Malaikat Gabriel, sesuai kalender liturgi gereja Katolik.

Acara peletakan batu pertama diawali ibadat sabda yang dipimpin oleh Pastor Paroki Sang Penebus Cristofel Fredy Andries, MSC.

Menurut Pastor Cristofel MSC, pembangunan Goa Maria ini agar umat memiliki tempat berdoa khusus kepada Bunda Maria. Sebenarnya ada tempat doa, hanya saja tempat doa itu sangat kecil dan kita inginkan supaya ada gua Maria yang tempatnya begitu luas supaya bisa menampung banyak umat yang hendak berziarah di tempat ini, ungkap Pastor Cristofel, MSC.

Lokasi tempat pembangunan Goa Maria ini sudah diukur sejak tahun 2005, namun belum ada tindakan selanjutnya, dikarenakan waktu itu pembangunan lebih difokuskan untuk gereja, jadi pembangunan Goa Maria sempat tertunda. Oleh karena itu pembangunannya baru dapat dilanjutkan pada tahun 2018 ini.

Adapun sumber pendanaan yang dipakai adalah dari dana kas paroki, swadaya umat, serta sumbangan dari berbagai donatur termasuk pemerintah.

Harapan Pastor Cristofel Fredy Andries, MSC, kehadiran Goa Maria dapat membawa arah hidup umat manusia kearah yang lebih baik serta umat dapat belajar banyak mengenai Bunda Maria Ratu Rosario Suci yang mana pestanya dirayakan setiap tanggal 7 Oktober. Rencananya jika gua Maria ini cepat selesai, maka akan diberkati pada tanggal 7 Oktober 2018.

Fredy Hendro Subiakto, Umat Paroki St. Maria Fatima Kelapa Lima, 26/3/2018

WUJUD KEPEDULIAN PADA SESAMA, PMKRI MERAUKE BUAT TEMPAT JUALAN UNTUK MAMA-MAMA

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Foto atas; anggota PMKRI membuat tempat jualan, foto bawah; seorang warga membeli jeruk pada seorang mama pedagang di Pasar Mopah.

SKP KAME-Sejak Rabu Abu, 18 Februari 2018 umat Katolik memasuki Masa Puasa dan Pantang. Masa ini lamanya 40 hari (quadragesima). Dalam Masa Prapaskah, umat Katolik akan membarui dan menyucikan diri dengan olah kesalehan hidup dan matiraga yang dilandasi oleh pengharapan dan syukur atas melimpahnya rahmat belas kasih Allah kepada kita. Secara pribadi dan bersama-sama, kita diajak untuk kembali mengarahkan hidup kepada Allah dan ikut serta dalam usaha membangun KerajaanNya, dimanapun kita berada. Pertobatan sejati mengundang kita untuk berani mengubah perilaku dalam keutamaan hidup kristiani, mengasah kepekaan sosial agar tergerak untuk berbelarasa dan memperjuangkan keadilan, terutama bagi saudari-saudara yang menderita dan berkekurangan.

Untuk mengasah kepekaan sosial tersebut, Perhimpunan Mahasiswa Katolik RI (PMKRI) St. Fransiskus Xaverius Cabang Merauke melakukan Aksi Puasa Pembangunan (APP) dengan membuat meja berjualan mama-mama pedagang asli Papua di Pasar Mopah, Merauke dari tanggal 19-24 maret 2018.

Meja dan tempat berjualan dari papan berukuran 3×4 meter ini dikerjakan sendiri oleh anggota PMKRI. Ditargetkan akan dibuat 20 buah meja, namun bahan yang terkumpul dari sumbangan anggota PMKRI dan donatur baru dapat membuat sekitar 10 meja.

Untuk itu, bagi siapa saja yang ingin membantu pembuatan meja jualan untuk mama-mama Papua ini dapat langsung menghubungi Ketua Presidium Sdr. Yohanis Nongyap, dengan alamat Sekretariat PMKRI St. Fransiskus Xaverius, belakang Vertenten Sai (Katedral Lama Merauke), Jalan Kimaam No. 2, Merauke.

PRO ECLESIA ET PATRIA.

Yohanis Nongyap, Ketua PMKRI Cabang Merauke, 21/3/2018

PEMERINTAH BUAT INSTALASI AIR BERSIH, WARGA SENANG

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Tong air Pamsimas di Kampung Poo

SKP KAME-Kampung Poo adalah sebuah kampung lokal Papua di Distrik Jagebob, Kabupaten Merauke. Ada kurang lebih 96 kepala keluarga yang tinggal di sana dan tersebar di 4 RT.

Salah satu kendala yang dihadapi masyarakat di Poo selama ini adalah soal air bersih. Tapi, kerinduan masyarakat itu mulai terjawab. Pemerintah berupaya menjawab salah satu kebutuhan pokok warga ini lewat program PAMSIMAS.

PAMSIMAS atau Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat adalah salah satu program yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia dengan dukungan Bank Dunia, program ini dilaksanakan di wilayah perdesaan dan pinggiran kota.

Program Pamsimas bertujuan untuk meningkatkan jumlah fasilitas pada warga masyarakat kurang terlayani termasuk masyarakat berpendapatan rendah di wilayah perdesaan dan peri-urban. Dengan Pamsimas, diharapkan mereka dapat mengakses pelayanan air minum dan sanitasi yang berkelanjutan serta meningkatkan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Penerapan program ini dalam rangka mendukung pencapaian target MDGs (sektor air minum dan sanitasi) melalui pengarusutamaan dan perluasan pendekatan pembangunan berbasis masyarakat.

Menurut beberapa warga Poo, selama ini ambil air di 2 buah waduk ke arah Kampung Toray, hanya saja, jaraknya cukup jauh untuk mereka yang tinggal di 3 dan 4 saja. Kalau RT 1 dan 2 mungkin agak dekat.

Beberapa waktu lalu, sebenarnya ada sumur yang dibangun dari Dana Desa sebanyak 8 buah. Hanya saja kalau musim kemarau tiba, airnya kering, selain itu juga air sumur tidak bisa dikonsumsi karena tingkat keasaman yang tinggi. Tidak jarang warga juga harus cari air berkilo-kilo meter jauhnya. Ini jelas masalah serius yang harus dipecahkan.

Dengan adanya bantuan instalasi air ke rumah warga, persoalan air bersih mulai terjawab. Modelnya itu, 1 keran untuk 4 rumah. Beberapa warga mengaku senang dengan bantuan pemerintah ini.

Kaspar Kotayop, Anggota PMKRI Merauke, 19/3/2018

PINTU AIR DAN DRAINASE BURUK, JALAN TERGENANG AIR

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Setelah musim kemarau yang panjang hal yang dinanti-nantikan warga Merauke adalah turunnya hujan. Apalagi sebagaimana kita ketahui kalau warga Kota Merauke menggantungkan kebutuhan air bersih dari Rawa Biru, kalau pasokan air kurang, mau tidak mau warga harus beli air dalam jumlah banyak dan harganya juga mahal.

Sepanjang bulan Januari sampai Februari ini curah hujan yang turun cukup tinggi. Warga senang karena tidak susah air lagi, begitu juga para petani di lokasi ex-transmigrasi karena sawahnya bisa digarap lagi. Tapi, rupa-rupanya curah hujan yang cukup tinggi ini juga menimbulkan masalah. Area jalan Nowari sampai Lapangan Jawa sudah macam rawa karena genangan air sudah tutup jalan. Selain itu, di beberapa titik di Jalan Ermasu juga tergenang air, akibatnya ruas jalan jadi cepat rusak dan rawan kecelakaan di sana. Selain itu warga sekitar juga rentan terkena malaria dan demam berdarah karena genangan air adalah tempat nyamuk berkembang biak.

Saya kira ini terjadi karena pintu air yang ada tidak berfungsi dengan baik, selain itu karena buruknya sistem drainase yang ada. Harapannya semoga pemerintah daerah tanggap dengan situasi seperti ini. Jangan tunggu ada korban baru bertindak.

Hendro Subiakto, Warga Kelurahan Kelapa Lima, 19/2/2018

Prioritas Program

Chart
  • 01 Penegakan keadilan dan Demokratisasi
  • 02 Membangun Budaya Damai
  • 03 Keutuhan Alam Ciptaan
  • 04 Perlindungan Perempuan dan Anak

Partner Links

  • Link Mitra 1
  • Link Mitra 2
  • Link Mitra 3
  • Link Mitra 4
  • Link Mitra 5
  • Link Mitra 6