Author Archive

FKUB BOVEN DIGOEL: MENDORONG PAPUA TANAH DAMAI

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Mengingat bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangat heterogen dalam segala aspek kehidupan, termasuk agama. Pada kenyataannya bahwa agama terlalu mudah diperalat untuk kepentingan tertentu yang berdampak pada bahaya “dis-integrasi bangsa”. Masyarakat juga tampaknya semakin masuk dalam penghayatan yang sempit, karena perbedaan agama bukan lagi dilihat sebagai kekayaan bangsa tetapi malah dilihat sebagai ancaman.

Di Papua pada umumnya dan Kab. Boven Digoel pada khususnya masyarakatnya sudah sangat heterogen, sehingga perlu dibentuk FKUB (Forum Kerukunan Antar Umat Beragama) untuk menjaga, memelihara, dan melestarikan “rasa aman” ini. FKUB adalah forum yang sah menurut perundangan NKRI, terutama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, sehingga juga menjadi bagian dalam sistem pemerintahan Negara Kesatua Republik Indonesia.

Secara nasional, khususnya di pusat, terlihat kenyataannya bahwa agama diperalat untuk kepentingan politik, ekonomi, sosial, budaya, dan kekuasaan. Sementara dalam konteks Papua: imigrasi besar-besaran dari luar Papua, tanpa kontrol dan pengaturan oleh yang bertanggung jawab.

Di satu pihak, gerak imigrasi ini membantu untuk beramai-ramai membangun Tanah Papua, tetapi di lain pihak mengandung bahaya laten bila tak diatur dengan strategi tertentu. Di kalangan agama tertentu muncul sekte-sekte yang membaptis orang-orang yang sudah beragama dan menimbulkan ketidaknyamanan di tengah masyarakat.

Maka di Kab. Boven Digoel telah dibentuk FKUB yang anggotanya terdiri dari tokoh-tokoh agama: terutama Katolik, Islam, dan Kristen karena agama-agama inilah yang dominan. Dengan kesadaran dasar bahwa apabila para pemimpin agama dapat menciptakan kerukunan di antara mereka, maka umat/ jemaat akan ikut dengan sendirinya.

Untuk tahap-tahap awal, FKUB telah mengadakan tiga kali pertemuan yang diberi nama: DIALOG LINTAS AGAMA. Pertemuan pertama di Tanah Merah (ibu kota Kab. Boven Digoel), pertemuan kedua di Mindiptanah (ibu kota Distrik Mindiptanah), dan pertemuan ketiga di Asiki (kawasan perusahaan PT. Korindo Group).

Pertemuan Pertama di Tanah Merah

Selain mensosialisasikan peraturan kedua menteri, yaitu Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, juga tiga kesepakatan diambil secara sadar dalam pertemuan ini.

PERTAMA: pembangunan rumah ibadat harus memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan undang-undang, antara lain mendapatkan persetujuan dari masyarakat sekitar yang tinggal disekitar lokasi di mana tempat ibadat akan dibangun, apalagi yang hidup di sekitar itu mayoritasnya beragama lain. Juga jumlah umat/ jemaat yang ada di tempat yang akan dibangun rumah ibadat: apakah cukup memenuhi syarat atau tidak? Dengan kata lain: apabila umat/ jemaatnya bisa dihitung dengan jari atau malah tak ada, tetapi mendirikan bangunan rumah ibadat maka itu tak dapat diakui secara hukum NKRI.

KEDUA: menolak radikalisme, entah dari agama apa pun. Radikalisme itu memiliki ciri-ciri menghancurkan kesatuan, kerukunan, dan kedamaian. Sehingga apabila ada gerakan seperti itu maka perlu bersama-sama mengatasinya.

KETIGA: bekerja sama dengan aparat keamanan untuk memberantas miras, karena miras ini bukan hanya dikonsumsi orang dewasa tetapi juga sudah merasuki generasi muda, bahkan generasi usia sekolah. Bagaimana mungkin mengharapkan masa depan bangsa, masyarakat, dan keluarga dengan baik bila masih usia muda sudah merusak diri dengan miras?

Pertemuan Kedua di Mindiptanah.

Wilayah Mindiptanah terletak di wilayah perbatasan NKRI dan PNG (Papua New Guinea), sehingga keamanan dan kerukunan dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Pertemuan kali ini lebih berupa sosialisasi kepada masyarakat tentang peraturan Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri.

Pertemuan Ketiga di Asiki

Wilayah ini adalah wilayah kawasan investasi PT. Korindo Group, di mana masyarakatnya jauh lebih heterogen, banyak karyawan dari seluruh wilayah Indonesia. Pertemuan kali ini selain sosialisasi aturan tentang kerukunan beragama, juga ada kesepakatan untuk membentuk FKUB di tingkat-tingkat Distrik (Kecamatan). Karena kawasan investasi yang berpusat di Asiki ini mencakup tiga Distrik Kab. Boven Digoel, yaitu Distrik Getentiri, Distrik Subur, dan Distrik Ki serta Distrik di wilayah Kab. Merauke yaitu Distrik Muting dan Distrik Ulilin.

Berdasarkan Peraturan Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, bahwa FKUB dibentuk di setiap Propinsi dan Kabupaten, tetapi melihat kebutuhan masyarakat di kawasan investasi, maka dibutuhkan pembentukan FKUB hingga ke tingkat Distrik. Ini pun baru berupa kesepakatan dan masih akan ditinjaklanjuti dalam pertemuan-pertemuan berikut untuk merumuskan bagaimana langkah-langkah konkritnya.

FKUB baru dibentuk di Kab. Boven Digoel, dan akan terus dibangun untuk menciptakan Papua Tanah Damai. Allah memberkati…!!!

Josep Jorolan MSC (Ketua FKUB Kab. Boven Digoel)

SITUASI PENDIDIKAN SMP PERSIAPAN NEGERI WAAN

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Foto bersama setelah selesai ujian | Photo. Yoseph Laba

 

SKP KAME-SMP Persiapan Negeri Waan yang terletak di Distrik Waan memiliki 11 orang guru yang aktif mengajar diantaranya 6 guru PNS, 3 guru kontrak, 1 orang guru SM3T dan 1 orang tenaga Tata Usaha.

Para pendidik tersebut mengajar di 4 ruang kelas yang ada. Adapun jumlah siswa SMP Persiapan Negeri Waan berjumlah lebih dari 300 siswa. Kalau dilihat dari daya tampung ruangan kelas, tentu jumlah ruang kelas yang ada sangat kurang sekali. Dalam 1 ruang kelas bisa 60 – 70 anak. Ini tentu jauh dari standard ruangan kelas yang berjumlah 30 siswa. Tidak semua siswa dapat tempat meja dan tempat duduk, akhirnya banyak juga diantara mereka yang harus duduk dilantai. Ruang perpustakaan akhirnya kami fungsikan sebagai ruang kelas untuk mengurangi para siswa yang tidak dapat tempat.

Melihat kebutuhan yang ada, kami masih butuh paling tidak 6 ruang kelas lagi untuk mengatasi kurangnya ruang kelas.

Distrik Waan adalah salah satu distrik terluar dan terjauh di Kabupaten Merauke serta berbatasan langsung dengan negara tetangga Australia.

Untuk sampai ke Waan, hanya dapat ditempuh lewat jalur laut. Tidak ada kapal dari Merauke yang langsung ke sana. Kami bersyukur dapat bantuan 1 buah speedboat dari Dinas P&P Kabupaten Merauke. Untuk sampai ke Waan dari Merauke dibutuhkan bahan bakar 2 drum (400 liter). Waktu tempuhnya sehari semalam. Tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan untuk sampai ke sana.

Tantangan lain yang kami hadapi selain tingginya biaya transportasi adalah alam yang tidak menentu. Kalau musim teduh, perjalanan kami lancar. Tapi kalau musim ombak besar maka nyawa kami terancam di laut.

Pernah satu kejadian, speedboat kami terbalik di perairan Wambi. Puji Tuhan 10 orang guru lolos dari amukan ombak dan semua selamat, walaupun barang-barang kami banyak yang tidak bisa diselamatkan.

Berbagai tantangan tersebut tidak membuat semangat kami luntur untuk tetap mengabdi dan mendidik anak-anak Waan agar menjadi manusia yang cerdas secara moral dan akademik.

Yoseph Laba, Guru Kontrak SMP Persiapan Negeri Waan, 27/5/2017

PELAKSANAAN UJIAN DI SMP PERSIAPAN NEGERI WAAN

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Setelah melaksanakan pendidikan selama jangka waktu tertentu tentu peserta didik harus diuji. Istilahnya kita kenal dengan ujian.

SMP Persiapan Negeri Waan melaksanakan Ujian Sekolah pada tanggal 10 – 12 April 2017. Setelah itu tangal 17 – 19 April dilaksanakan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN). Dalam USBN tahun 2017 ini ada 3 mata pelajaran yang diujikan yakni Agama, PPKN, dan IPS. Setelah itu, kami bawa hasil USBN ke Dinas P&P Kabupaten Merauke sekaligus mencari informasi tentang pelaksanaan Ujian Nasional. Kami terpaksa harus ke Merauke karena tidak ada hubungan telekomunikasi antara Waan – Merauke. Hal ini diakibatkan dari putusnya signal Telkomsel di Waan.

Setelah mendapatkan informasi dan petunjuk dari Dinas P&P, kami pun kembali ke Waan untuk melaksanakan Ujian Nasional pada tanggal 2,3,4, dan 8 Mei (mata pelajaran yang diujikan: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan IPA).

Adapun para siswa yang mengikuti kegiatan ujian ini mulai dari Ujian Sekolah, USBN, sampai Ujian Nasional berjumlah 79 orang dari 111 orang siswa. Ada 32 siswa yang tidak ikut kegiatan ujian tahun 2017 dikarenakan keluar sekolah dan ada juga yang memilih untuk berkeluarga. Hal ini sebenarnya sangat kami sayangkan mengingat pentingnya kegiatan ujian ini sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional. Sekolah itu penting untuk masa depan.

Secara umum pelaksanaan ujian tahun 2017 di SMP Persiapan Negeri Waan berjalan dengan lancar.

_____________________________________

Yoseph Laba, guru SMP Persiapan Negeri Waan membagikan beberapa fotonya selama bertugas di sana. Berikut foto-fotonya.

Yoseph Laba, Guru Kontrak SMP Persiapan Negeri Waan, 27/5/2017

SEBUAH MAHA KARYA AGUNG DARI SANG BUNDA MARIA RATU DAMAI

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Foto : Gua Maria Ratu Damai

SKP KAME-Alunan musik menggema satu malam suntuk dan bernyanyi bagi sang bunda sebelum gua dan patung Bunda Maria diberkati pada hari yang dimaksud.

Kehadiran gua Maria Ratu Damai membawa umat dalam keberkahan dan keyakinan yang teguh, dimana sosok sang Bunda Maria yang dikukuhkan dalam kesucian perawan murni senantiasa memberkati  wilayah tanah adat.

Pelaksanaan pemberkatan gua Maria Ratu Damai mengambil tema utama : “TAK SEORANGPUN DAPAT MEMPUNYAI ALLAH SEBAGAI BAPA, JIKA TIDAK MEMPUNYAI GEREJA SEBAGAI BUNDA” secara resmi diberkati pada tanggal 27 Mei 2017 di Paroki Santa Theresia Muting Kanak-kanak Yesus dalam perayaan Misa Kudus.

Ketika Misa hendak dimulai, rombongan para pastor yang terdiri dari Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Merauke, Pastor Hendrikus Kariwop MSC, bersama perwakilan provincial MSC Indonesia dan Pastor dekanat Muting, Pastor John Kota Sando Pr disambut meriah dan dihantar menuju altar menggunakan tari-tarian daerah dari berbagai etnis suku diantaranya  tarian Salawaku dan Sawat dari etnis Maluku Tenggara dibawah pimpinan Bapak Jack Namza. Tarian Ja’I dari etnis Flobamora (Bajawa) dibawah pimpinan Bapak Frits Mite, tarian Gatzi dari etnis Malind Mbian (Marind) dibawah pimpinan Bapak Jakobus Mahuze dan tarian Kubu dari etnis Auyu, Digoel dan Auyu kali Mappi dibawah pimpinan Bapak Nikolaus Bogun, Matias dan Leo Aute dari Hame 1 dan Hame 2 distrik Foffi Kabupaten Boven Digoel.

Hadir dalam pemberkatan gua Maria Ratu Damai dari kalangan pimpinan tarekat susteran PBHK Indonesia, Region Papua serta dihadiri pula oleh Bupati Kabupaten Boven Digoel Benediktus Tambonop, S.STP serta staf ahli kepresidenan RI sekaligus ketua LMA propinsi Papua Bapak Lenis Kogoya, S.Th, M.Hum dan rombongan penting lainnya yaitu Sekretaris LMA propinsi Papua, wakil ketua DPR propinsi Papua fraksi PDI-P bapak Edoardus Kaize ketua LMA Kabupaten Merauke dan Ketua LMA Kabupaten Boven Digoel diikuti umat dari Paroki Distrik Muting meliputi wilayah Ulilin, Alfasera, Kali Bian serta umat dari wilayah Boven Digoel khususnya stasi-stasi di distrik Subur, Aiwat, Getentiri, Foffi, Kombai dan Korowai.

Perayaan Ekaristi Kudus pemberkatan gua Maria Ratu Damai yang dipimpin langsung oleh Pastor Hendrikus Kariwop MSC berjalan sangat kusyuk dan penuh hikmat dengan melibatkan kidung pujian yang dilantunkan oleh koor paduan suara dari umat wilayah Ulilin, Alfasera dan ibu-ibu kerahiman paroki Sta. Theresia Kanak-kanak Yesus Muting.

Setelah Misa Kudus selesai, acara dilanjutkan dalam ramah tamah yakni pengguntingan pita sekaligus penandatanganan prasasti oleh VikJen Keuskupan Agung Merauke, Pastor Hendrikus Kariwop, MSC beserta Bupati Boven Digoel Benediktus Tambonop, S.STP, perwakilan pemerintah Daerah yang diwakili oleh Wakapolres Kabupaten Merauke, serta ditandatangani pula oleh staf ahli Kepresidenan RI Bapak Lenis Kogoya, S.Th, M.Hum.

Akhir dari seluruh rangkaian acara ditandai dengan pelepasan seekor burung merpati putih yang melambangkan kesucian akan Roh Kudus.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penanaman bibit pohon sebagai bentuk perdamaian akan habitat alam yang dilakukan oleh VikJen Keuskupan Agung Merauke beserta Bupati Boven Digoel diiringi oleh lagu “I Have A Dream” oleh anak-anak Sekami paroki Sta. Theresia Kanak-kanak Yesus Muting.

Kiriman Berita dari : Piter Ndun

(OMK Dekanat Muting)

SEKOLAH PERKENALKAN PANGANAN LOKAL PADA PARA SISWA

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

(Kepala SD YPPK Kumbe mencicipi makanan yang disajikan para siswa)

 SKP KAME- SD YPPK Santa Theresia Kumbe selain memberikan pengajaran dan pendidikan kepada peserta didik juga selalu memperkenalkan pangan lokal Papua dalam beberapa kesempatan.

Salah satunya pada pelaksanaan Ujian Praktek Sekolah, Rabu 10 Mei 2017. Bahan pangan lokal di sini berbahan dasar sagu yang diolah menjadi sep dan papeda.

Selain itu, dalam beberapa kesempatan panganan lokal selalu diperkenalkan. Tujuan dari pengenalan makanan lokal Papua kepada peserta didik di SD YPPK Santa Theresia Kumbe diantaranya:

1) meningkatkan keterampilan siswa membuat variasi makanan menggunakan bahan pangan lokal,

2) sosialisasi kepada siswa tentang bahan pangan dan makanan yang berasal dari sumberdaya lokal dan

3) meningkatkan kualitas makanan lokal ditinjau dari segi penampilan, higienis dan kandungan gizi di dalamnya.

Hal lain lagi dari kegiatan ini adalah menumbuhkan rasa bangga dalam diri para siswa terhadap kekayaan kuliner bangsa, maka mereka sendiri yang menyiapkan dan menyajikan makan-makanan lokal tersebut.

Yeremias Enga S.Ag, Kepala Sekolah SD YPPK Sta. Theresa Kumbe, 19/5/201

PELAKSANAAN USBN 2017 SD YPPK SANTA THERESIA KUMBE

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Siswa SD YPPK Kumbe bersiap mengikuti USBN | Photo. Yeremias Enga

 

SKP KAME-Sekolah Dasar YPPK Santa Theresia Kumbe, Distrik Malind, pada tahun-tahun sebelumnya selalu melaksanakan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) bergabung dengan 3 sekolah lainnya yaitu: SD YPPK Santa Maria Domande, SD YPPK Santo Yohanes Don Bosko Onggari, dan SD YPPK Santo Agustinus Kaiburse. 4 sekolah ini masuk dalam Sub Rayon Merauke 36 yang pelaksanaannya bergabung pada satu sekolah secara bergilir setiap tahunnya.

Pada tahun 2017 pelaksanaan USBN dari tanggal 15 – 17 Mei di SD YPPK Santa Theresia Kumbe tidak lagi bergabung dengan 3 sekolah lainnya. Mekanisme pelaksanaan UASBN di sekolah sendiri, bagi kami akan lebih mudah dalam pengawasan dan lebih murah dalam pembiayaan ketimbang bergabung pada satu tempat.

Sebanyak 25 siswa ikut dalam USBN, dibagi dalam 2 ruang ujian. Ruang 1 untuk 10 siswa dan Ruang 2 untuk 15 siswa sesuai juknis. Sistem pengawasan ujian adalah silang murni yakni guru-guru dari SD YPPK Santa Maria Domande, SD YPPK Santo Yohanes Don Bosco Onggari dan SD YPPK Santo Agustinus Kaiburse.

Panitia USBN adalah semua guru SD YPPK Santa Theresia Kumbe sebanyak 11 orang. Para guru yang ada terlibat aktif dalam menyiapkan segala keperluan berupa pengawasan dan perlengkapan administrasi, ATK, snack serta Konsumsi selama 3 hari pelaksanaan USBN, sehingga semuanya dapat terlaksana dengan baik dan tepat waktu.

Tahun 2017 ini juga menjadi tahun berkat bagi kami, karena status akreditasi SD YPPK Santa Theresia Kumbe yang sebelumnya ‘C’, kini menjadi ‘B”. Peningkatan status ini berdasarkan Keputusan Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/ Madrasah (BAP S/M) Provinsi Papua, Nomor: 026/BAP-SM/TU/III/2017 Tentang Penetapan Hasil Akreditasi Sekolah/Madrasah, Tanggal 15 Maret 2017.

Berdasarkan status akreditasi yang baru, kami memiliki komitmen dan semangat baru untuk melaksanaan USBN SD tahun ini dengan baik. Kami berharap dapat terus meningkatkan pendidikan di SD YPPK Santa Theresia Kumbe secara khusus dan Kabupaten Merauke secara umum.

Yeremias Enga S.Ag., Kepala SD YPPK Santa Theresia Kumbe, 19/5/2017

PELETAKAN BATU PERTAMA PEMBANGUNAN RUMAH PASTOR STASI ST. YOSEPH, KURIK

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

P, Juven OFM.Cap meletakkan batu I Photo. Rosalinda Sihite

 

SKP KAME-Umat Stasi Santo Yoseph, Kurik saat ini sedang membangun sebuah rumah untuk pastor. Rumah ini terletak di kompleks Gereja Katolik Stasi Santo Yoseph, Kurik.

Sabtu, 13 Mei 2017 setelah misa pagi, Pastor Paroki Santo Petrus & Paulus, Kumbe, Pastor Juventus Saragih, OFM.Cap bersama Ketua Panitia Pembangunan Bpk. Yeremias Enga secara simbolis meletakkan batu pertama pembangunan Rumah Pastor.

Kegiatan ini diawali dengan doa dan pemberkatan atas batu yang ada. Pastor Juven (panggilan akrab Pastor Juventus Saragih OFM.Cap) mengatakan bahwa sebuah rumah akan berdiri kokoh bila batu menjadi dasarnya. Kita berdoa bagi para tukang dan panitia agar Tuhan menyertai mereka dalam pekerjaan ini.

Rumah Pastor ini direncanakan akan dibagun seluas 11 X 7 M2, dengan total dana sebesar Rp 249.128.000.

Yeremias Enga, Ketua Panitia Pembangunan Rumah Pastor, 17/5/2017

Pidato di Al-Azhar Mesir, Paus Fransiskus Ucapkan ‘Assalamualaikum’

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Foto : Paus Fransiskus berpelukan dengan ulama Mesir Mufti Al-Azhar Sheikh Ahmed al-Tayeb

KAIRO – Pemimpin Vatikan Paus Fransiskus menyapa orang-orang Mesir dengan ucapan “Assalamualaikum” ketika memulai pidato di Universitas Al-Azhar, hari Jumat (28/4/2017). Sapaan salam dalam bahasa Arab itu disambut tepuk tangan meriah oleh warga Mesir.

Usai mengucap salam, Paus melanjutkan pidatonya dengan bahasa Italia. Dalam pidatonya, Paus menyerukan semua pihak untuk tegas menolak kekerasan yang mengatasnamakan agama.

”Mari kita katakan sekali lagi secara resmi dan jelas, ‘Tidak!’ untuk kekerasan, pembalasan dan kebencian yang dilakukan atas nama agama atau atas nama Tuhan,” kata Paus yang pidato dalam
konferensi perdamaian di universitas yang menjadi pusat studi Islam seluruh dunia itu.

Kunjungan Paus di Al-Azhar bagian dari kunjungan dua hari di Mesir. Lawatan pemimpin Vatikan ini membawa pesan damai antar-komunitas Muslim dan Nasrani.

Kunjungan Paus ini berselang tiga minggu setelah pembom bunuh diri dari kelompok ISIS meledakkan diri di Gereja Koptik Mesir yang menewaskan 45 orang.

Paus mendesak para imam agama untuk mengajar para siswanya agar menolak kekerasan atas namanTuhan dan mengkhotbahkan perdamaian, dialog serta rekonsiliasi, bukan seruan untuk konflik.
Paus juga berbicara dengan Grand Mufti Al-Azhar Sheikh Ahmed al-Tayeb, dan ulama Mesir lainnya pada hari pertama kunjungan di Kairo.

Di forum yang sama, Mufti al-Tayeb mencela kelompok militan yang “sembarangan” dan “bodoh” dengan salah menafsirkan kitab suci agama untuk melegitimasi kekerasan. Al-Tayeb dikenal di kalangan ulama dunia sebagai sosok ulama moderat Mesir.

“Militan telah sembarangan dan bodoh, salah menafsirkan teks-teks (kitab suci) agama,” kata al-Tayeb. ”Islam bukanlah agama terorisme,” katanya lagi, seperti dilansir Reuters, Sabtu (29/4/2017)..

Sumber: sindonews.com

MENGENANG KEMBALI SEJARAH HARI PENDIDIKAN NASIONAL DI INDONESIA

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

KAMORANG TAHU KAH?

 

Foto : Ki Hajar Dewantara.

Sumber Google.

SKP KAME-Sejarah hari pendidikan nasional negara Indoesia tidak lepas dari sosok dan perjuangan Ki Hadjar Dewanta, pelopor pendidikan kaum pribumi Indonesia di era kolonialisme.

Setiap tanggal 2 Mei, Bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional yang bertepatan dengan hari ulang tahun Ki Hadjar Dewantara, Pahlawan Nasional yang dihormati sebagai Bapak Pendidikan Nasional di Indonesia. Sejarah Hari Pendidikan Nasional memang tak bisa dilepaskan dari sosok dan pejuangan Ki Hadjar Dewantara.

Ki Hadjar Dewantara yang memiliki nama asli R.M Suwardi Suryaningrat lahir dari keluarga ningrat (bangsawan) di Yogyakarta, 2 Mei 1889.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, lanjut sekolah ke STOVIA (Sekolah Kedokteran untuk Pribumi zaman Hindia Belanda), namun tidak selesai karena sakit. Akhirnya, ia bekerja menjadi seorang wartawan di beberapa media surat kabar, sepertii De Expess, Utusan Hindia dan Kaum Muda.

Ki Hajar Dewantara dikenal karena berani menantang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau kaum priyayi yang bisa mengeyam bangku pendidikan.

Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis pada tahun 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menulis “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” atau “Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga”. Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah “Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli: “Als ik een Nederlander was”), dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan Douwes Dekker, 13 Juli 1913.

Akibat tulisan ini ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913). Ketiga tokoh ini dikenal sebagai “Tiga Serangkai”. Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun.

______________________________________________

Seorang sahabatnya, Ernest Douwes Dekker atau Danudirdja Setiabudi – seorang blasteran Belanda, Jerman-Jawa yang kritis terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Bersama Tjipto Mangoenkoesoemo, mereka juga merupakan tokoh pelopor nasionalisme Indonesia.

Tiga Semboyan

Ki Hadjar Dewantara memiliki semboyan yang selalu ia terapkan dalam sistem pendidikan. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Artinya: Ing Ngarsa Sung Tulada ( di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide) dan Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan).

Hingga kini, semboyan pendidikan Ki Hadjar Dewantara tersebut sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia dan terus dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia.

Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (kemudian disebut sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan) yang pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.

LINDUNGI HUTAN KERAMAT, WARGA TANAM SALIB

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Kami marga Tomba, Burok, dan Towap yang tinggal di Kampung Subur, Distrik Subur, Kabupaten Boven Digoel adalah pemilik sah dari tanah adat yang sekarang su jadi areal kerja perusahaan perkebunan skala besar PT BIA (Bio Inti Agrindo).
Kami marga Tomba, Burok, dan Towap su berusaha beberapa kali untuk minta ganti rugi dari pihak perusahaan, tapi tidak pernah ada tanggapan.

Sekarang kami dengar informasi, bahwa perusahaan akan memperluas areal perkebunannya sampai ke wilayah dekat Kampung Aiwat, Subur, dan Kaiza Digul. Selain itu, mereka akan membuka lagi lahan baru di sekitar kampung lama Doeval.
Kami warga dari tiga kampung ini sepakat untuk tidak akan menyerahkan tanah lagi kepada perusahaan. Kami tidak mau kasih tanah lagi karena kami pikir nanti kami tidak punya tanah yang tersisa lagi. Kalau tidak ada tanah yang tersisa bagaimana nasib anak cucu kami. Karena tidak ada jalan lain, akhirnya kami tancap kayu Salib di tempat-tempat keramat disekitar hutan yang masih tersisa. Kenapa kami tanam Salib? Karena Salib merupakan simbol kemenangan Tuhan sebagai Sang Pencipta Alam Semesta.
Kami juga kecewa dengan pihak pemerintah Kabupaten Boven Digoel, yang kurang memperhatikan masalah hak tanah adat kami yang saat ini menjadi sengketa antara kami marga-marga dari kampung Aiwat dan Subur dengan dua perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Berkat Cipta Abadi dan PT. Bio Inti Agrindo.

Agustinus Tomba, Warga Kampung Subur, 13/3/2017

Prioritas Program

Chart
  • 01 Penegakan keadilan dan Demokratisasi
  • 02 Membangun Budaya Damai
  • 03 Keutuhan Alam Ciptaan
  • 04 Perlindungan Perempuan dan Anak

Partner Links

  • Link Mitra 1
  • Link Mitra 2
  • Link Mitra 3
  • Link Mitra 4
  • Link Mitra 5
  • Link Mitra 6