Author Archive

DEWAN STASI BUTUH PELATIHAN ADMINISTRASI

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Tahun 2008 Stasi St. Yohanes, Kampung
Tambat mulai masuk dalam wilayah
pelayanan Paroki Kuper. Sebelumnya,
Stasi St. Yohanes Tambat masuk Paroki
Kelapa Lima.

Kitorang dulu waktu masih gabung dengan
Paroki Kelapa Lima itu selalu dapat
pembinaan dan pelatihan. Salah satunya
tentang tata liturgi sabda dan bagaimana
cara memimpin ibadah sabda yang baik
dan benar.

Sekarang tidak pernah kitorang dapat
pembinaan atau pelatihan lagi. Padahal
kitorang dewan di stasi di kampung-kampung
ini perlu pengetahuan yang banyak. Hal ini tidak
lepas dari perkembangan jaman yang makin
maju. Kitorang butuh misalnya pengetahuan
tentang administrasi (surat-surat, buat
pembukuan, dll). Jangan nanti kitorang bikin
salah baru dapat tegur dari Pastor atau dewan
paroki.

Sa harap besok-besok itu Pastor Paroki atau
Dewan Paroki bisa undang kitorang untuk ikut
pelatihan tentang administrasi dan pelatihanpelatihan
yang lain juga.

Martinus Magadin, Sekretaris Dewan Stasi St. Yohanes
Tambat, 11/7/2017

DAPAT BANTUAN RUMAH DARI DANA KAMPUNG, WARGA SENANG

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Ilustrasi rumah bantuan I finance.detik.com

Tahun 2008 ada Program AMD (ABRI Masuk
Desa) di Erom Kampung sini. Tujuan dari
dilaksanakannya program ini adalah untuk
membantu masyarakat di kampung-kampung
dalam menyelesaikan setiap permasalahannya.
Waktu itu, ada beberapa kegiatan pemberdayaan
masyarakat yang bapa-bapa tentara dorang
lakukan. Salah satunya adalah pembangunan
rumah warga. Sa termasuk yang rumahnya di
bangun.

Hanya saja, sejak dibangun tidak pernah rehap,
sehingga kondisinya sudah mulai tidak layak
huni. Atapnya su mulai bocor, tiang-tiang kayu
su lapuk. Kalau angin besar tiup kitorang waswas,
jangan sampai rumah tacabut.
Baru-baru ini, pemerintah kampung ada program
perumahan untuk warga. Ada dua buah rumah
yang dibangun, saya salah satunya yang dapat
bantuan. Bulan Januari 2017 ini sa pu rumah
di bangun. Walaupun belum diberkati dan
diresmikan, sa dengan keluarga su tinggal di sini.
Sa tidak was-was lagi kalau angin besar tiup.
Terima kasih kepada pemerintah kampung yang
su bangun sa pu rumah. Semoga ada program
rumah lagi untuk warga lainnya lagi.

Thomas Kumun, Ketua Dewan Stasi Maria Lourdes Erom
Kampung, 11/7/2017

Kunjungan Lembaga Advokasi Peduli Perempuan (eL-AdPPer) di Kampung Rawa Biru, Distrik Sota

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Beatrix Gebze dari Lembaga Advokasi Peduli Perempuan (eL-AdPPer) mengunjungi Kampung
Rawa Biru, Distrik Sota pada bulan Juli 2017 untuk meilhat dari dekat aktivitas warga di sana.
Kampung Rawa Biru adalah ‘urat nadi’ air bersih untuk Kota Merauke. Sehari-hari, warga di
sana hidup dari hasil berburu, berkebun, dan mengolah minyak kayu putih. Beatrix bersedia
membagikan beberapa foto-fotonya.

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Lem aibon yang dijual bebas untuk perekat

Tubuhnya terbaring kaku di depan sekretariat
sebuah partai politik di Jalan Raya Mandala,
Merauke. Ya, beberapa hari yang lalu (18/7) adik
saya, Matias Eperi terbujur kaku, tak bernyawa.
Sebagai saudaranya tentu saja saya sedih, Matias
pergi begitu tragis karena menghisap lem aibon.
Matias pertama kali berkenalan dengan aroma
lem aibon sekitar tahun 2005 – 2006 dari temantemannya.
Isapnya juga sembunyi-sembunyi.
Awalnya keluarga tidak tahu, tapi lama
kelamaan, kami tahu kebiasaan Matias. Kami
nasehati dia untuk tidak lagi isap lem aibon,
karena efeknya tidak baik untuk kesehatan.
Hanya saja, nasehat dari keluarga sudah tidak
mempan. Matias tetap lanjut isap lem aibon.
Lama-kelamaan dia semakin kecanduan.
Kami pernah berkonsultasi dengan pihak
kepolisian. Kami sampaikan kalau bisa ada
semacam penyampaian khusus ke pemilik

kios untuk tidak jual lem aibon, atau paling tidak
supaya tidak dijual secara sembarangan. Tapi,
pihak kepolisian bilang bahwa mereka tidak bisa
larang pemilik kios untuk jual barang ini. Itu hak
penjual, mau jual kepada siapa saja. Hal ini juga
karena tidak aturan yang membatasi penjualan
lem aibon ini.
Kami juga bertemu degan pihak Yasanto,
kebetulan kami diterima oleh salah satu staff di
sana. Dia bilang kalau akan sampaikan hal ini ke
Dinas Sosial Kabupaten Merauke.
Selain itu, kami juga berusaha bagaimana caranya
supaya Matias jauh dari lem aibon. Kami kirim
dia ke Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel, tapi
tetap saja dia kembali isap lem aibon. Kami juga
kirimkan dia ke Asmat, tapi tetap saja dia kembali
isap lem aibon. Bahkan kami pakai cara yang
agak sedikit ‘keras’ dengan pukul dia, tapi tetap
saja tidak mempan. Kami sampai bingung mau
bawa dia ke mana lagi.

Lama-kelamaan, Matias mulai terganggu secara
mental. Syaraf-syarafnya sudah terpengaruh lem
aibon. Dia semakin sering keluar rumah, bahkan
lebih sering tidak pulang rumah.
Kami sudah coba berbagai upaya, tapi tetap
saja Matias kembali isap lem aibon. Bagaimana
dia tidak kembali isap aibon kalau ‘barang’ itu
bebas di jual di kios-kios? Harganya juga sangat
murah. Ukuran kecil cuma seharga Rp 3.000.
Hal ini terus berlangsung, sampai suatu siang
kami dengar berita itu. Matias tinggalkan kami
untuk selamanya. Rasanya seperti disambar
petir di siang bolong.
(Apapun yang dikatakan orang tentang dia,
dia dan kami semua adalah ciptaan Tuhan
Yang Maha Kuasa. Dia telah menjalani dan
mengalami semuanya itu, dan kini telah pergi
kembali kepada yang empu-Nya kehidupan ini,
Tuhan Yang Maha Kuasa, selamat jalan adik
dan saudara kami Matias Eperi semoga engkau
bahagia di kehidupan barumu di sana, kami
akan selalu mendoakanmu…….)
Kami harap ada perhatian yang lebih serius dari
pihak-pihak yang peduli dengan persoalan ini
di Kabupaten Merauke, terutamanya dari pihak
pemerintah. Peristiwa yang kami keluarga alami
membuat saya membuat tulisan ini dengan
harapan ada anak-anak Papua lain bernasib
sama seperti saudara kami.
Tahukah anda bahwa di dalam lem Aibon
terkandung zat Lysergic Acid Diethylamide
(LSD), Zat tersebut adalah halusinigen yang
paling terkenal. Ini adalah narkoba sintetis yang
di sarikan dari jamur kering (dikenal sebagai
ergot) yang tumbuh pada rumput gandum.
Zat tersebut sejenis zat hirup yang sangat mudah
ditemui di produk lem perekat, dan bahan-bahan
yang mudah menguap, tidak berwarna dan tidak
berbau yang sering di serap ke dalam zat apa
saja yang cocok seperti kertas pengisap dan gula
blok, atau dapat dipadukan dalam tablet, kapsul
atau kadang-kadang gula-gula. Bentuk LSD
yang paling popular adalah kertas pengisap yang
terbagi menjadi persegi dan dipakai dengan cara
ditelan. pengaruhnya sangat luar biasa jika

terhirup dan masuk ke dalam paru-paru kita.
Halusinogen lain bisa di temukan dalam zat
meskalin (tanaman alami yang berasal dari
kaktus peyote), pala, jamur-jamur tertentu
(yang mengandung zat psilosin dan psilosibin),
dimetiltriptamin (DPT), fensiklidin (PCP) dan
ketamin hidroklorid.
Tak serupa dengan narkoba lain, pengguna LSD
mendapat sedikit gagasan apa yang mereka
pakai dan efeknya dapat berubah-ubah dari
orang ke orang, dari peristiwa ke peristiwa dan
dari dosis ke dosis. Efeknya dapat mulai dalam
satu jam setelah memakai dosis bertambah
antara 2-8 jam dan berangsur hilang secara
perlahan-lahan setelah kurang lebih 12 jam.
Zat yang dihirup dalam lem Aibon menjadikan
penggunanya merasa bahagia hingga aktivitas
sang pengguna akhirnya berkurang lantaran
halusinasi yang dialami. Efeknya dapat menjadi
nikmat yang luar biasa, sangat tenang dan
mendorong perasaan nyaman. Sering kali ada
perubahan pada persepsi pada penglihatan,
suara, penciuman, perasaan, dan tempat.
Seorang konselor Yayasan ASA Bangsa, Dr. Esti
mengemukakan bahwa kandungan zat Lysergic
Acid Diethylamide bisa membuat seseorang
yang menghirupnya berhalusinasi dan sakaw.
Setiap orang yang menghisap uap lem aibon
secara berlebihan dan dalam jangka waktu
yang lama bisa menyebabkan kematian secara
mendadak, hal itu disebabkan terjadinya spasme
atau keram di otot pernafasan.
Uapnya yang bersifat iritan akan mengiritasi
mukosa saluran napas hingga melukai
saluran pernapasan sehingga terjadi keram
di otot pernafasan. Dan bila seseorang yang
menghisapnya tidak mengalami kematian,
jangka lamanya akan merusak otak. Zat
halusinogen, menurut dia, tidak saja terdapat di
lem aibon, tapi juga terdapat pada jenis spidol
tertentu. Misalnya, bensin atau solar.
Sebagian besar pemakai kandungan zat Lysergic
Acid Diethylamide tidak pernah mencari
pengobatan, pemakai yang sudah ketagihan
biasanya akan merasa aman bila berada di dalam

ruangan yang tenang dan gelap, pemakai
yang sudah mengalami parah mungkin akan
mengalami gangguan mental dan memerlukan
pengobatan jiwa.
Terkait dengan penanganan anak-anak yang
terkena aibon ini sebenarnya tidak bisa dilihat
sepenggal-sepenggal saja. Menurut saya ada tiga
tahapan yang harus dilakukan oleh siapa saja
yagn peduli dengan persoalan ini, antara lain:
u Tahap Preventif (Pencegahan)
Pada tahapan ini menjadi tanggungjawab
keluarga dan lingkungan sekitar. Keluarga
dan lingkungan berperan untuk memproteksi,
mengawasi dan membina setiap anggota
keluarganya agar tidak mudah jatuh atau
terjerumus ke dalam hal-hal negatif, salah
satunya penyalahgunaan lem aibon/castol
yang termasuk kategori NAPZA (Narkoba,
Psikotropika dan Zat Adiktif).
Penyebaran informasi terkait dampak dan
bahaya penyalahgunaan lem aibon atau castol
harus lebih sering dilakukan oleh siapa saja
yang peduli. Penyebaran informasi ini dapat
dilakukan sampai di tingkat RT, tidak hanya
di kelurahan atau kampung saja. Terutama
pada lingkungan-lingkungan atau tempattempat
dianggap rentan/beresiko terhadap
penyalahgunaan lem aibon. Dapat juga
disosialisasikan di lingkungan sekolah dan
masih banyak lagi.
u Tahap Kuratif (Pemberantasan)
Pada tahap ini, memutus mata rantai
mereka yang sudah terlanjur mengenal dan
menyalahgunakan lem aibon. Pada tahap
ini, artinya mereka tidak lagi punya akses
terhadap lem aibon/castol. Penjual lem aibon
harus diedukasi untuk tidak menjual dengan
sembarangan lem aibon, minimal penjual lem
aibon harus selektif ketika melayani pelanggan
yang ingin membeli lem. Perlu dipikirkan
sebuah regulasi untuk mengatasi hal ini.
u Tahap Rehabilitasi (Pemulihan)
Setelah mata rantai diputuskan dan pengguna
lem aibon sulit lagi untuk memperoleh aibon
barulah mereka dirangkul.

Dalam prosesnya, mereka harus didampingi
dan ditampung dalam tempat semacam panti
rehabilitasi atau rumah singgah.
Mereka dibina dan direhabilitasi baik dari sisi
kesehatan, mental dan sebagainya. Bahkan
jika memungkinkan mereka harus didorong
untuk kembali bersekolah baik di sekolah
formal maupun non-formal, seperti mengikuti
pelatihan-pelatihan misalnya seperti di BLK
(Balai Latihan Kerja). Ini dilakukan agar
mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan,
sehingga ketika kembali ke tengah masyarakat
mereka juga bisa bersaing.
Untuk itu, diperlukan sebuah lembaga yang
khusus menangani anak-anak korban lem aibon
atau pun anak-anak lainnya.
Persoalan penyalagunaan lem aibon ini
sebenarnya sudah muncul sekitar tahun 2000-
2001. Sudah banyak upaya yang dilakukan
oleh pihak-pihak terkait untuk menanganinya.
Kenyataannya, persoalan ini bukannya malah
berkurang tapi semakin bertambah tiap tahun.
Penangananya juga tersekan hanya sepotongsepotong.
Kalau ada program baru rame-rame
seperti peduli, habis itu hilang lagi. Nanti ada
program lagi rame lagi, begitu terus modelnya.
Kegiatan pendampingan yang ada tidak
berkelanjutan.
Mereka adalah saudara, adik, anak kita dan
generasi masa depan negeri ini, tolong jangan
biarkan mereka itu dibelenggu, dihancurkan,
apalagi harus menjadi korban.
Bukankah sudah menjadi kewajiban negara
memperhatikan hal ini sebagaimana diatur
dalam UUD 1945 Pasal 34: (1) Fakir miskin dan
anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara,
(2) Negara mengembangkan sistem jaminan
sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan
masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai
dengan martabat kemanusiaan, (3) Negara
bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas
pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan
umum yang layak.

Johanes Eperi- Seorang aktivis di Merauke dan Kakak
dari Matias Eperi yang menjadi korban lem aibon

NO PINANG, NO KERJA: TIDAK ADA PINANG, PEKERJAAN TIDAK SELESAI

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Seorang warga mengunyah pinang | photo otonomi.co.id

SKP KAME- Mengunyah pinang adalah salah satu kebiasaan yang senang dilakukan oleh sebagian penduduk Indonesia, secara khusus masyarakat Papua. Sudah jadi kebiasaan kalau tidak makan pinang itu ada yang kurang. Ada istilah lebih baik tra sarapan pagi dari pada tidak kunyah pinang. Pinang su jadi kebiasaan yang tidak terlepaskan bagi sebagian masyarakat asli Papua.

Tidak ada yang salah memang dari aktivitas mengunyah pinang. Malah ada beberapa hal positif yang kita dapatkan dari kebiasaan mengunyah pinang. Di antaranya:

  1. Meningkatkan hubungan kekerabatan. Sambil makan pinang, sambil duduk cerita, ini tentu akan semakin membuat hubungan antara dua orang yang duduk makan pinang bersama semakin akrab.
  2. Mengatasi mulut kering. Orang yang menyirih biasanya mulutnya tidak kering hal ini di sebabkan oleh kinerja buah pinang yang membuat kelenjar ludah menjadi keluar terus menerus. Ludah ini akan mencegah orang terserang penyakit seperti disentri.
  3. Menguatkan gigi dan gusi.
  4. Obat cacing untuk ternak. Jika buah pinang dicampur dengan bahan-bahan seperti kunyit dapat diolah menjadi obat cacing untuk ternak seperti ayam, itik, dll.
  5. Mengobati luka, dan masih banyak kegunaan lainnya.

Kalau-pun ada hal negatif dari sisi kesehatan, ya bisa menyebabkan kanker mulut. Itupun kalau dikonsumsi secara berlebihan. Ini su terbukti karena ada beberapa warga yang kena kanker mulut karena makan pinang secara berlebihan.

Hal negatif lain yang sa lihat mulai muncul itu kalau tidak ada pinang orang tidak mau kerja. Istilahnya itu ‘No Pinang, No Kerja’.

Fenomena ini sa rasa mengurangi kualitas manusia Papua. Gotong royong, semangat kebersamaan dalam bekerja itu diukur dari ada tidaknya pinang dan tembakau lempeng. Bahkan di lingkungan gereja juga begitu. Kalau kerja bakti atau apapun kegiatan gereja kalau tidak ada pinang, hanya sedikit orang saja yang datang. Jadi ‘No Pinang, No Haleluya’. Fenomena ini kalau sa boleh bilang ‘ngeri-ngeri sedap’.

Padahal orang tua-tua dulu ajar tidak begitu. Mo ada pinang ka tidak, bekerja itu jadi salah satu hal utama supaya bisa terus hidup. Apalagi kalau pekerjaan itu harus dilakukan secara bersama-sama. Jadi semangat kekeluargaan dan gotong royong itu su jadi kebiasaan dalam hidup bersama. Hanya saja, sekarang di jaman yang makin maju ini justru terjadi kemunduran. Pinang tra ada pekerjaan juga macet.

Apa yang sa sampaikan di atas bukan berarti mo bilang kalau kebiasaan makan pinang itu tidak baik. Sejatinya kebiasaan ini baik, tapi kalau dilakukan secara berlebihan justru efeknya seperti candu. Orang kalau su kencanduan sesuatu untuk kasih normal kembali akan susah.

Soal ini sepertinya sepele, tapi terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Kitorang tidak mau saudara-saudara kita mati gara-gara kena kanker mulut akibat konsumsi pinang secara berlebihan. Kitorang tentu tidak ingin pinang hanya jadi alasan orang untuk datang bekerja, ‘No Pinang, No Kerja’. Untuk itu, kiranya hal ini menjadi perhatian kita bersama bahkan perlu dipikirkan bagaimana cara mengatasi hal ini.

Martinus, Warga Merauke, 12/6/2017

 

 

CARI DANA BANGUN GEREJA, UMAT LELANG BERBAGAI MAKANAN

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Rabu, 28/6/3027, Panitia bersama umat
melakukan penggalangan dana pembangunan
Gereja Katolik Santo Yakobus, SP 7 Kampung
Hidup Baru, Paroki Kuper. Aksi penggalangan
dana ini dipimpin langsung oleh ketua panitia
Bapak Hendrikus Sare. Aksi ini yang dilakukan
dengan melelang beberapa jenis menu mulai dari
daging ayam, ikan bakar, dan lainnya.
Kegiatan penggalangan dana yang dilaksanakan
di halaman Gereja Katolik SP 7 ini dihadiri oleh
berbagai undangan dari Kota Merauke.
Sebelumnya memang gedung gereja sudah
mulai dibangun beberapa tahun yang lalu, tapi
belum selesai karena terkendala. Terutama
bagian atapnya. Salah satu cara yang ditempuh
yaitu dengan menjalankan iuran setiap bulan
Rp 25.000, hanya saja tidak semua umat mau
sumbang. Hal ini tidak lepas dari pendapatan
umat yang tidak tentu. Untuk itu, kegiatan
ini diadakan kembali untuk menambah dana
yang ada supaya pembangungannya dapat
terselesaikan.

Puji Tuhan dari hasil kegiatan ini dana yang
terkumpul 100 juta lebih. Mudah-mudahan
pembangunan Gedung Gereja Katolik Stasi
Santo Yakobus SP 7 dapat terselesaikan.
Agus Muda, Umat Stasi St. Yakobus SP 7, 29/6/2017

SUDAH BERTAHUN-TAHUN TIDAK ADA GURU DI KAMPUNG METO

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Paulinus Kemon, dari kampung Meto, Boven Digoel

SKP KAME- Tatapannya tajam, memandang jauh ke depan, seolah ingin berkata,”Bagaimana masa depanku kelak?”.

Paulinus Kemon, nama anak itu. Usianya 10 tahun. Ia tinggal di Kampung Meto – sebuah kampung di tepi Sungai Digoel, Kab. Boven Digoel.

Beberapa saat yang lalu ia ditanya dasar-dasar berhitung dan membaca oleh pamannya yang datang dari Kota Merauke. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan pamannya itu.

Ternyata, sudah beberapa tahun ini, sekolah yang tak jauh dari rumahnya itu ditinggal pergi oleh para guru.

Padahal ada perumahan untuk guru-guru tinggal. Pamannya sangat sedih mengetahui kondisi pendidikan di kampungnya saat ini. Padahal dulu, beliau sekolah dan menamatkan pendidikannya di Kampung Meto.

Untuk sampai ke Kampung Meto dari Asikie, dapat ditempuh menggunakan perahu motor tempel selama 2 – 3 jam menyusuri Sungai Digoel. Akses transportasi ke Kampung Meto juga terbilang lancar karena setiap hari ada perahu motor tempel yang bolak-balik Asikie – Meto.

Sungguh sebuah ironi jika kampung yang tidak terlalu jauh dari pusat keramaian, akses transportasi tidak begitu sulit, fasilitas pendidikan sudah memadai (walaupun belum dapat dikatakan sempurna), tapi anak-anak tidak sekolah gara-gara tidak ada guru.

Ini adalah salah satu potret pendidikan di Tanah Papua

Pastor Felix Amias MSC, 27/5/2017

Sang Gembala Yang Berbeda Dengan Para Pendahulunya

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Potret Paus Fransiskus

SKP KAME- Pada sebuah misa pagi, Paus Fransiskus kembali melontarkan kritik tajamnya untuk para jemaat Katolik Roma. Ia mengatakan bahwa banyak para orang Katolik yang bersikap hipokrit, berkehidupan ganda.

“Ada orang yang mengatakan ‘saya sangat Katolik, saya selalu pergi ke Misa, saya termasuk ke dalam perkumpulan ini dan itu’,” kata pemimpin 1,2 miliar umat Katolik Roma sedunia ini seperti dikutip The Guardian.

Menurut Paus, seharusnya orang-orang itu juga mengatakan, “hidup saya tidak Kristen, saya tidak membayar karyawan saya dengan gaji yang layak, saya mengeksploitasi orang, saya melakukan bisnis kotor, saya mencuci uang, [saya menjalani] kehidupan ganda.” Jika ada banyak orang Katolik yang punya kehidupan ganda macam ini, menurut Paus, mereka akan menyebabkan skandal. “Berapa kali kita mendengar orang mengatakan ‘jika orang [macam] itu beragama Katolik, mending jadi ateis saja’.”

Ucapan Paus Fransiskus seketika membikin heboh. Dan, bukan kali itu saja ia mengatakan hal-hal semacam itu dalam khotbah-khotbahnya.

Paus Fransiskus yang Kontroversial

Paus Francis atau Paus Fransiskus, terlahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio pada 17 Desember 1936, di Buenos Aires, Argentina. Orangtuanya adalah imigran dari Italia yang kemudian bermukim di Argentina.

Menduduki jabatan sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik Roma sedunia sejak 13 Maret 2013 menggantikan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri, ia adalah paus ke-266. Ia adalah paus pertama dari Ordo Yesuit, sekaligus paus pertama dari benua Amerika.

Sebagai Paus non-Eropa kedua setelah Paus Gregorius III dari Suriah yang pernah memimpin, Bergoglio memilih Francis sebagai nama kepausannya untuk menghormati Santo Fransiskus dari Assisi.

Fransiskus tidak hanya terkenal dengan berbagai perkataan yang menyiratkan pemikirannya dan untuk Gereja Katolik. Dalam tindakan, ia juga tidak kalah dianggap berani lantaran sangat berbeda dengan kultur para Paus pendahulunya.

Akhir Maret, tidak lama setelah dilantik menjadi Paus, ia mengunjungi Casal del Marmo, sebuah penjara remaja. Di sana, ia membasuh dan mencium kaki 12 penghuni penjara yang rata-rata masih muda dalam misa pembasuhan kaki Kamis Putih menuju Paskah. Bahkan, dua di antaranya adalah Muslim Serbia.

“Siapapun yang menjabat di posisi tinggi, justru harus melayani orang lain,” kata Paus saat kemudian memulai misa Kamis Putih yang memang selalu terdapat ritual pembasuhan kaki layaknya Yesus ketika membasuh kaki ke-12 murid-muridnya.

Dua bulan berselang, Paus dalam sebuah homilinya pada misa Rabu mengatakan bahwa ateis sekalipun harus berbuat baik dalam pandangannya, dan tetap mendapat kemurahan dan rahmat dari Tuhan.

Paus Fransiskus: Kemiskinan Butuh Tindakan, Bukan Kata-Kata Kosong

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Ilustrasi anak-anak yang orang tuanya kurang mampu

SKP KAME- Orang tidak bisa duduk santai saja dan bersikap acuh tak acuh atau tidak mau peduli terhadap
meningkatnya kemiskinan di dunia, sementara sekelompok kecil orang mengumpulkan “kekayaan yang
luar biasa,” kata Paus Fransikus
“Tuhan menciptakan langit dan bumi untuk semua, namun sayangnya beberapa orang memasang
penghalang, tembok dan pagar, mengkhianati karunia asli yang dimaksudkan untuk semua umat
manusia, tanpa ada yang dikecualikan,” kata Paus Fransiskus pada peringatan Hari Kaum Miskin Dunia
yang pertama kali seperti dilaporkan Catholic News Service.
Peringatan yang baru didirikan dan periode refleksi dan tindakan yang mendahului kegiatan tersebut
dimaksudkan untuk membantu orang Kristen mengembangkan dan mempertahankan gaya hidup yang
lebih konsisten dan tulus yang dibangun di atas semangat berbagi, kesederhanaan dan kebenaran Injil,
kata paus dalam pesan yang disampaikan pada tanggal 13 Juni, Pesta St. Anthony dari Padua.
Hari Kaum Miskin Sedunia- yang ditandai setiap tahun pada hari Minggu ke-33 masa biasa- akan
dirayakan pada 19 November tahun ini.
Ada begitu banyak bentuk kemiskinan material dan spiritual yang meracuni hati manusia dan
membahayakan martabat mereka, kata paus.
Terlalu sering orang Kristen mengambil “cara berpikir duniawi” dan lupa untuk mengarahkan pandangan
dan tujuan mereka terfokus pada Kristus, yang hadir dalam diri mereka yang remuk redam dan rentan.
“Kemiskinan memiliki wajah wanita, pria dan anak-anak yang dieksploitasi oleh kepentingan dasar,
hancur oleh intrik kekuasaan dan uang,” katanya.
“Tragisnya, pada zaman kita saat ini, meski kekayaan mewah banyak menumpuk di tangan beberapa
orang istimewa, yang seringkali terkait dengan aktivitas ilegal dan eksploitasi martabat manusia yang
mengerikan, ada pertumbuhan kemiskinan yang memalukan dalam masyarakat luas di seluruh dunia
kita,” kata Paus Fransiskus.
“Dihadapkan dengan kondisi seperti ini, kita tidak bisa tetap pasif, apalagi menyembunyikan diri,” kata
paus..
Sumber: indonesia.ucanews.com

PERNYATAAN PAUS FRANSISKUS

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Paus Fransiskus melayani permintaan seorang remaja untuk foto bersama

SKP KAME-Dalam khotbahnya itu Paus Fransiskus mengatakan:

“Tuhan menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya, dan kita adalah citra Tuhan, dan Dia melakukan yang baik dan kita semua memiliki perintah ini di hati, yaitu: berbuat baik dan tidak berbuat jahat.

Kita semua. ‘Tapi bapa, orang ini bukan Katolik! Dia tidak bisa berbuat baik.’ Ya, dia bisa … “Tuhan telah menebus kita semua, dengan Darah Kristus:. Kita semua, bukan hanya umat Katolik. Semua orang! ‘Bapa,[bagaimana dengan] para ateis?’ Bahkan ateis. Semua orang!”.. Kita pasti bertemu satu sama lain, dengan berbuat baik. ‘Tapi saya tidak beriman, Bapa, saya seorang ateis!’ Berbuat baiklah, kita akan bertemu di sana,” ungkapnya seperti dilansir Huffington Post.

Pernyataan ini kemudian menimbulkan spekulasi beragam baik dari kalangan Katolik maupun non-Katolik. Bulan Agustus 2013, Paus Fransiskus membalas surat dari Eugenio Scalfari, seorang pendiri surat kabar La Repubblica mengenai posisi orang non-Katolik dan dirinya yang seorang ateis. Dalam jawabannya, Paus menuliskan “Anda bertanya kepada saya apakah Tuhan orang Kristen mengampuni orang-orang yang tidak percaya dan yang tidak mencari iman.

Saya mulai dengan mengatakan—dan ini adalah hal yang mendasar—bahwa rahmat Tuhan tidak memiliki batas jika Anda pergi ke Dia dengan hati yang tulus dan menyesal. Masalah bagi mereka yang tidak percaya pada Tuhan adalah untuk mematuhi hati nurani mereka,” tulisnya.

Paus menambahkan bahwa dosa terjadi ketika manusia tidak mengikuti nuraninya, seperti dikutip The Independent.

Ucapan Paus lain yang paling diingat adalah pembelaannya terhadap Islam dari pengidentikan dengan perilaku terorisme. Dalam berbagai pemberitaan dan rekaman video yang banyak beredar, Paus Fransiskus menegaskan bahwa Islam tidak bisa disamakan dengan terorisme.

“Pada hampir semua agama selalu ada kelompok kecil fundamentalis. Kita pun punya kelompok macam itu,” ujar Paus. “Jika saya harus berbicara tentang kekerasan dalam Islam, saya pun harus berbicara tentang kekerasan dalam Kristen,” tambahnya. “Setiap hari saya membaca berita tentang kekerasan yang terjadi di Italia. Seseorang membunuh pacarnya, yang lain membunuh mertuanya, dan mereka adalah orang-orang yang dibaptis sebagai pemeluk Katolik,” ungkap Paus lagi.

Bersambung ke edisi mendatang. . . .

Prioritas Program

Chart
  • 01 Penegakan keadilan dan Demokratisasi
  • 02 Membangun Budaya Damai
  • 03 Keutuhan Alam Ciptaan
  • 04 Perlindungan Perempuan dan Anak

Partner Links

  • Link Mitra 1
  • Link Mitra 2
  • Link Mitra 3
  • Link Mitra 4
  • Link Mitra 5
  • Link Mitra 6