Author Archive

MANJI PUA: OLAHRAGA DAN SARANA PENYELESAIAN KONFLIK

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Peserta Manji Pua | Foto SELESTINUS JUPJO

SKP KAME-Manji Pua merupakan olahraga tradisional Suku Marind Bob yang diwariskan oleh para leluhur dari generasi ke generasi. Sampai sekarang olahraga ini masih dilestarikan oleh masyarakat Papua lebih khusus di wilayah Pulau Kimaam. Olahraga tradisional ini menggunakan kekuatan murni tanpa kekuatan yang lain (magis) di mana peserta lomba perlu menyiapkan diri secara baik fisik dan mentalnya. Perlunya kesiapan fisik dan mental dari peserta lomba, dikarenakan olahraga ini saling adu kekuatan atau yang sebut dengan Gulat Bob.

Manji Pua sejatinya bukan sekedar olahraga yang dipertandingkan antar warga saja, tetapi lebih dari itu, manji pua merupakan sarana untuk menyelesaikan konflik. Konflik-konflik yang terjadi dapat disebabkan oleh berbagai hal misalnya persoalan tanah, pemukulan, sampai pembunuhan. Untuk menyelesaikan berbagai persoalan tersebut, maka diadakan lomba Gulat Bob. Setelah selesai lomba, pihak-pihak yang terlibat dalam konflik akan duduk bersama melakukan rekonsiliasi untuk saling memaafkan satu sama lain dan makan pinang bersama sebagai tanda membangun kembali hubungan yang harmonis. Masing-masing pihak yang bertikai akan pulang ke rumah dengan damai, tak ada lagi dendam.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke, untuk pertama kalinya menyelenggarakan lomba Gulat Bob pada tanggal 9 Februari 2018 dalam rangka memeriahkan hari ulang tahun Kota Merauke yang ke 116, di mana ulang tahunnyanya sendiri jatuh pada tanggal 12 Februari.

Semoga nilai-nilai budaya yang ada dapat terus digali dan lestarikan oleh masyarakat pemilik budaya serta didukung oleh berbagai pihak termasuk Pemerintah Kabupaten Merauke. Selain itu, kegiatan seperti ini hendaknya dapat terus diadakan dan dipromosikan agar Merauke semakin dikenal dan tentu saja mendorong wisatawan, baik lokal maupun internasional untuk datang ke Merauke.

Selestinus Boi Jupjo, Pemuda Merauke, 14/2/2018

 

MANJI PUA: OLAHRAGA DAN SARANA PENYELESAIAN KONFLIK

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Peserta Manji Pua | Foto SELESTINUS JUPJO

SKP KAME-Manji Pua merupakan olahraga tradisional Suku Marind Bob yang diwariskan oleh para leluhur dari generasi ke generasi. Sampai sekarang olahraga ini masih dilestarikan oleh masyarakat Papua lebih khusus di wilayah Pulau Kimaam. Olahraga tradisional ini menggunakan kekuatan murni tanpa kekuatan yang lain (magis) di mana peserta lomba perlu menyiapkan diri secara baik fisik dan mentalnya. Perlunya kesiapan fisik dan mental dari peserta lomba, dikarenakan olahraga ini saling adu kekuatan atau yang sebut dengan Gulat Bob.

Manji Pua sejatinya bukan sekedar olahraga yang dipertandingkan antar warga saja, tetapi lebih dari itu, manji pua merupakan sarana untuk menyelesaikan konflik. Konflik-konflik yang terjadi dapat disebabkan oleh berbagai hal misalnya persoalan tanah, pemukulan, sampai pembunuhan. Untuk menyelesaikan berbagai persoalan tersebut, maka diadakan lomba Gulat Bob. Setelah selesai lomba, pihak-pihak yang terlibat dalam konflik akan duduk bersama melakukan rekonsiliasi untuk saling memaafkan satu sama lain dan makan pinang bersama sebagai tanda membangun kembali hubungan yang harmonis. Masing-masing pihak yang bertikai akan pulang ke rumah dengan damai, tak ada lagi dendam.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke, untuk pertama kalinya menyelenggarakan lomba Gulat Bob pada tanggal 9 Februari 2018 dalam rangka memeriahkan hari ulang tahun Kota Merauke yang ke 116, di mana ulang tahunnyanya sendiri jatuh pada tanggal 12 Februari.

Semoga nilai-nilai budaya yang ada dapat terus digali dan lestarikan oleh masyarakat pemilik budaya serta didukung oleh berbagai pihak termasuk Pemerintah Kabupaten Merauke. Selain itu, kegiatan seperti ini hendaknya dapat terus diadakan dan dipromosikan agar Merauke semakin dikenal dan tentu saja mendorong wisatawan, baik lokal maupun internasional untuk datang ke Merauke.

Selestinus Boi Jupjo, Pemuda Merauke, 14/2/2018

 

BERBAGAI KEGIATAN MERIAHKAN HUT MERAUKE KE-116

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Dalam rangka memeriahkan hari ulang tahun Merauke ke 116, diadakan beberapa lomba dan kegiatan antara lain lomba dayung satu kaki, panahan tradisional, lomba tangkap babi, lomba gulat kimaam, lomba hokiyenan, dan pawai budaya Papua serta malam puncak HUT Merauke di Lapangan Mandala. Berbagai lomba dan kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 6 – 12 February 2018.

Pawai Budaya dilaksanakan dengan tema “Dengan semangat hari jadi Merauke ke- 116 kita mengangkat budaya lokal untuk mewujudkan Merauke sebagai daerah destinasi wisata”. Pawai Budaya ini diikuti oleh berbagai sekolah dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi juga paguyuban-paguyuban yang ada di Merauke. Pawai budaya tahun ini menarik karena banyak peserta yang menggunakan atribut Papua.

Selain berbagai kegiatan, perlombaan, dan pawai budaya, dilaksanakan juga peresmian Gedung Kantor Bupati Merauke yang baru pada tanggal 12 Februari oleh Bupati Merauke, Frederikus Gebze, SE, M.Si. Hadir dalam peresmian Kantor Bupati Merauke, Sekretaris Daerah Provinsi Papua, Herry Dosinaen mewakili Gubernur Provinsi Papua, Bupati Mappi, Mantan Bupati Merauke Romanus Mbaraka, Danlantamal XI, Danrem 174/ATW, beberapa anggota DRPD Merauke, pimpinan dan staff beberapa SKPD Kabupaten Merauke, tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan, dan tokoh pemuda, serta tamu undangan.

Pada malam harinya ribuan warga Kota Merauke tumpah ruah dalam acara puncak bertempat di Lapangan Mandala, Merauke yang ditandai dengan tarian khas Suku Marind.

Dirgahayu Kota Merauke, semoga semakin semakin maju, menjadi istana damai, istana cinta kasih. Salam Izakod Bekai, Izakod Kai, Satu Hati Hati Tujuan.

Hendro Subiakto, Warga Kelurahan Kelapa Lima, 15/2/2018

PELATIHAN HAM DASAR BAGI ANGGOTA PMKRI CABANG MERAUKE

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Dari tanggal 23-24 Februari bertempat di Margasiswa Sekretariat PMKRI Cabang Merauke diadakan Pelatihan HAM Dasar. Pelatihan yang diadakan oleh Badan Pengurus PMKRI Cabang Merauke ini diikuti para anggotanya.

Tujuan diadakan kegiatan ini agar anggota PMKRI memiliki wawasan tentang HAM, apa saja aturannya, dan tantangan-tantangan menjadi seorang pejuang HAM serta bagaimana strategi menghadapinya.

Kaspar Kotayop, Anggota PMKRI Cabang Merauke, 26/2/2018

Gereja St. Petrus Erom

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Bangunan megah ini berdiri atas berbagai usaha swadaya dari umat sendiri lewat berbagai kegiatan, bazaar, kebun paroki, pentas kesenian, dan berbagai cara ditempuh. Sumbangan dari berbagai donatur dan pemerintah daerah juga turut membantu berdirinya rumah Tuhan ini. Usaha pembangunan Gereja Paroki St. Petrus Erom dimulai sejak Pastor Hendrikus Kariwop, MSC pada tahun 2007. Ketika itu Erom masih menjadi bagian dari Paroki Kuper. Pastor Raymond melanjutkan pekerjaan tersebut sejak mulai bertugas di Erom tahun 2011. Bangunan ini menghabiskan dana kurang lebih 4 milyar rupiah.

Bupati Merauke, Frederikus Gebze SE, M.Si menyampaikan bahwa pihak gereja merupakan mitra pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan di Kabupaten Merauke tercinta. Pemerintah daerah senantiasa berusaha memfasilitasi pembangunan rumah ibadah sebagai tempat beribadah dan membentuk pendewasaan iman. Harapannya gedung gereja yang sudah dibangun ini dapat terus dijaga dan dirawat dengan baik.

Pada acara ini juga ditampilkan berbagai tarian tradisional umat di Paroki St. Petrus Erom dan pemberian kain motif NTT kepada Bupati Merauke, dua mantan wakil bupati dan para donator yang telah memberi sumbangsih sehingga gereja ini dapat berdiri.

Kaspar Kotayop, Anggota PMKRI Cabang Merauke, 5/2/2018

PERESMIAN DAN PEMBERKATAN GEDUNG GEREJA SANTO PETRUS EROM

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Foto atas; tampak bagian depan gereja St. Petrus Erom, foto bawah; Bupati Merauke bersama para pihak yang berkontribusi pada pembangunan gedung gereja baru

SKP KAME-Ribuan umat Katolik tumpah ruah di Paroki St. Petrus, Erom. Hari Minggu, 4 February 2018 adalah hari bersejarah bagi umat di sana. Gedung gereja yang sudah dibangun sejak tahun 2007 akhirnya diresmikan oleh Bupati Merauke, Frederikus Gebze, SE, M.Si dan diberkati oleh Uskup Agung Merauke, Mgr. Nicholaus Adi Seputra, MSC.

Misa pemberkatan dipimpin langsung oleh Uskup Agung Merauke selaku selebran utama didampingi Pastor Paroki Erom, RD Raymond Raja Doren, Pr dan sejumlah pastor yang bertugas di Keuskupan Agung Merauke.

Acara ini dihadiri oleh Bapa Uskup Agung Merauke, para biarawan/ biarawati, Bupati Merauke, dua orang Mantan Bupati Merauke Romanus Mbaraka dan Johanes Gluba Gebze, Sekretaris Daerah Kabupaten Merauke, Anggota DPR RI Soleman Hamzah, sejumlah anggota DPRD Merauke, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, para undangan, dan umat Katolik Paroki St. Petrus Erom.

Bapa Uskup dalam misa menyampaikan rasa syukur atas dibangunnya gedung gereja baru yang bagus. Beliau juga mengingatkan agar selalu menjaga persatuan dan kesatuan, jangan sampai terkotak-kotak karena kepentingan politik semata. Para elit baik-baik saja, tapi warga di bawah justru yang jadi korban politik, hidup jadi tidak tentram, tidak ada damai Karena malah berkonflik satu sama lain. Di akhir renungannya, Bapa Uskup berharap akan lahir orang-orang hebat dan putera-puteri Marind yang mempersembahkan dirinya untuk pelayanan umat Allah.

Pastor Paroki Erom, RD Raymond Doren, Pr menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian gereja baru.

FASILITAS UMUM RUSAK DAN RAWAN BENCANA, BUTUH TINDAKAN CEPAT UNTUK MENANGGAPINYA

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Foto: Jembatan di Ndalir yang nyaris putus

SKP KAME-Bulan Januari sampai Maret biasanya hujan turun dengan sangat deras di Merauke. Genangan air di mana-mana. Kalau drainase dan sistem saluran air tidak baik pasti Merauke kebanjiran. Di sekitaran Lapangan Jawa menuju Kampung Timur, sebagian Jalan Ermasu, beberapa titik di Kali Weda, dan masih banyak lagi tempat di sekitaran wilayah Kota Merauke jadi langganan genangan air kalau musim penghujan datang.

Tidak jauh dari wilayah kota, di Lepro misalnya, akibat rusaknya infrastruktur jalan dan genangan air membuat beberapa warga berinisiatif untuk tanam pohon pisang di tengah jalan. Ini dilakukan karena warga kecewa, jalan tidak kunjung diperbaiki. Jalan yang berlubang itu juga rawan terjadi kecelakaan. Padahal jalur Lepro menghubungkan Merauke dengan jalur Trans Papua dan Distrik Naukenjerai yang juga berbatasan dengan Papua New Guinea

Tidak jauh dari Lepro, kurang lebih 3-4 kilometer, di Bokem jalan juga rusak parah. Lewat jalur ini baik dengan kendaraan roda 4 maupun roda dua siap-siap saja ‘berkelahi’ dengan lumpur.

Di Pantai Ndalir, jembatan penghubung menuju Distrik Naukenjerai nyaris putus. Warga di sana juga terancam abrasi pantai yang hebat.

Di sekitaran Pantai Payum, akibat air pasang tinggi warga yang tinggal di pinggir pantai terpaksa diungsikan ke GOR Head Sai Merauke.

Di beberapa kampung di Distrik Waan, air pasang juga masuk sampai perkampungan dan merusak kebun milik warga.

Rusaknya berbagai fasilitas umum seperti jalan dan jembatan perlu segera ditangani dengan cepat, selain itu ancaman bencana juga hendaknya segera disikapi oleh pemerintah. Jangan tunggu ada korban dulu baru bertindak.

Hendro Subiakto, Warga Merauke, 15/3/2018

PEMBANGUNAN TANGGUNG JAWAB SEMUA PIHAK

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Memasuki bulan Desember, Merauke biasanya akan turun hujan dengan deras. Rawa-rawa sudah pasti penuh dengan air. Para petani di wilayah ex-transmigrasi pasti rasa senang karena itu tanda musim tanam padi sudah tiba Tapi, dibalik sukacita itu ada juga hal yang kurang mengenakkan. Ya, hujan yang deras juga buat fasilitas jalan di kampung-kampung yang sebelumnya berdebu berubah jadi berlumpur.

Pemerintah saat ini sedang giat-giatnya membangun fasilitas jalan dan juga fasilitas lainnya untuk menopang perekonomian warga. Hanya saja, ada beberapa kampung terutama di distrik-distrik yang jauh dari kota seperti ‘tak tersentuh’ pembangunan sama sekali (bukan berarti tidak ada). Pembangunan yang dilakukan sepertinya hanya di distrik-distrik yang dengan kota saja. Itupun banyak juga kampung-kampung yang dekat dengan kota kondisi jalannya masih rusak parah.

Pemerintah memang sudah seharusnya membenahi berbagai infrastuktur yang ada, termasuk jalan penghubung antar kampung, apalagi kalau itu janji kampanye. Masyarakat di kampung mereka tidak tahu jalan yang dibangun itu kewenangan kabupaten provinsi, atau nasional. Di lain pihak warga juga harus sadar menjaga lingkungan agar infrastruktur yang dibangun pemerintah untuk warga tidak rusak dengan cepat akibat ulah kita sendiri. Sebagai contoh, penggalian pasir membabi-buta yang mengakibatkan rusaknya ekosistem pantai dan akhirnya menggerus jalan.

Dengan kata lain, pembangunan di Kabupaten Merauke ini perlu peran serta semua pihak. Baik pemerintah waupun warga sendiri.

John Eperi, Pemuda Merauke, 23/1/2018

MEMAKNAI SEGEL ADAT SEBAGAI KORBAN TEBUSAN, PEMBEBASAN, DAN PENYELAMATAN

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Tahun 1999, saya mulai tinggal dan menetap di Warambak, Kampung Kurik, Distrik Kurik. Terhitung 18 tahun sudah saya tinggal di tempat ini. Menjadi sebuah sukacita bahwa hari ini, Rabu 20 Desember 2017, tanah Warambak yang merupakan wilayah adat Suku Malind Kumbe secara adat telah disegel. Warambak menjadi tempat tinggal warga Indonesia dari berbagai suku, ras, dan agama.

Sebuah refleksi bagi saya ketika mengikuti upacara segel adat dalam Suku Malind Kumbe ternyata sangat identik dengan korban penebusan, pembebasan, dan penyelamatan.

Bagi saya 5 ekor babi yang disiapkan untuk 5 marga Suku Malind Kumbe menjadi meterai, tanda perekat di mana darah babi yang tumpah di atas tanah ini menjadi jaminan untuk pembebasan hak ulayat tanah adat masyarakat Suku Malind Kumbe dan diakui secara sah/resmi, diserahkan kepada semua masyarakat dari berbagai etnis di Indonesia yang telah 18 tahun mendiami tanah Warambak ini.

Dalam Perjanjian Lama, korban tebusan seperti ini telah terjadi pada bangsa Israel di mana anak domba yang disembelih dan darahnya dioleskan pada palang pintu rumah umat Israel menjadi materai, jaminan pembebasan bagi bangsa Israel yang menurut fakta sejarah keselamatan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah sendiri.

Begitu pula dalam Perjanjian Baru ternyata Yesus yang akan datang ke dua kalinya untuk menghakimi dan mengadili semua umat manusia tanpa terkecuali pula.

Pesan bagi kita, semoga semua korban yang telah kita lakukan di atas Tanah Warambak, Kampung Kurik pada hari ini menjadi jaminan bagi kebahagiaan hidup bersama dan selalu saling berdampingan satu sama lain sebagai saudara-bersaudara. Jangan memakai perbedaan untuk saling membinasakan tetapi jadikanlah perbedaan itu sendiri sebagai sebuah keberagaman yang saling melengkapi, memperkaya, dan membahagiakan

Pijaklah selalu pada slogan emas kita Kabupaten Merauke: “IZAKOD BEKAI, IZAKOD KAI, SATU HATI, SATU TUJUAN”… Sampai akhir zaman Tuhan sertamu.

Yeremias Enga, Warga Warambak – Kampung Kurik, 20/1/2018

NATAL BERSAMA PEMUDA MARIND

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Pemuda Marind Kabupaten Merauke melaksanakan Perayaan Natal Bersama pada hari Sabtu, 13 Januari 2018 bertempat di Gor Hiad Sai, Merauke. Ibadah natal bersama (oikumene) ini dipimpin oleh Pastor John Kandam Pr dan Pendeta Sarlota Ndiken.

Hadir dalam kegiatan ini, Bupati Merauke, unsur pimpinan SKPD Kabupaten Merauke, mantan Bupati Merauke dan juga tokoh Selatan Papua, Johanes Gluba Gebze, tokoh adat Marind, tokoh perempuan, tokoh pemuda, beberapa paguyuban etnis dan para tamu undangan serta masyarakat adat Suku Marind.

Tokoh Selatan Papua, Drs. Johanes Gluba Gebze menyampaikan bahwa saat ini, masyarakat adat Marind tengah menghadapi ancaman serius. Ancaman tersebut dalam bentuk hilangnya tanah. Untuk itu, pemuda harus dapat bersatu membela hak-hak masyarakat Marind itu sendiri.

Bupati Merauke, Frederikus Gebze, SE, M.Si menyampaikan agar pemuda dapat bersatu serta berpikir bagaimana supaya masyarakat adat Marind ini menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Sementara Ketua Panitia Natal Bersama Septinus Balagaize mengatakan bahwa acara ini merupakan momentum mempererat tali persaudaraan masyarakat Marind sendiri serta turut serta menyukseskan pembangunan di Kabupaten Merauke tercinta. Kegiatan Natal Bersama ini merupakan momentum untuk menyatukan seluruh pemuda Marind dari Kondo sampai Digoel serta menghayati kelahiran Yesus Kristus, sekaligus merefleksikan makna kehadiran Yesus di dalam kehidupan orang Marind.

Hal yang menarik dalam kegiatan ini adalah saat santap malam bersama tidak disuguhkan nasi sebagai makanan tapi diganti dengan pangan lokal seperti sagu sep, pisang, keladi, papeda, dan masih banyak yang lain lagi.

Germanus Yolmen, Pemuda Marind, tinggal di Merauke, 17/1/2018

Prioritas Program

Chart
  • 01 Penegakan keadilan dan Demokratisasi
  • 02 Membangun Budaya Damai
  • 03 Keutuhan Alam Ciptaan
  • 04 Perlindungan Perempuan dan Anak

Partner Links

  • Link Mitra 1
  • Link Mitra 2
  • Link Mitra 3
  • Link Mitra 4
  • Link Mitra 5
  • Link Mitra 6