Author Archive

JELANG MAPENTA & KKD, PEMUDA KATOLIK BENTUK PANITIA

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Pemuda Katolik Komisariat Cabang Merauke berencana akan mengadakan Kegiatan Masa Penerimaan Anggota (MAPENTA) dan Kursus Kepemimpinan Dasar (KKD) di Distrik Okaba. Untuk itu, dibentuklah panitia SC (Steering Commitee) dan OC (Organizing Commitee) dengan ketua panitia Marthina Mahuze, Sekretaris Ignasius Sanio Kahol dan bendahara Gervasius T. Kaize. Panitia ini akan dibantu oleh beberapa seksi supaya kegiatan MAPENTA dan KKD di Distrik Okaba dapat berlangsung dengan aman dan lancar. Kegiatan ini direncanakan akan dilaksanakan dari tanggal 4 sampai 7 Agustus 2016. Adapun peserta yang terlibat adalah para pemuda (tentunya beragama katolik) yang berasal dari Kampung Sanggase, Alaku, Okaba, Makaling, Dufmirah, Iwol, dan Wambi (Es Wambi dan Mahai Wambi). Masing-masing kampung akan mengutus 10 orang peserta.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menerima anggota baru di tingkat Anak Cabang dan Ranting. Selain itu juga melatih pemuda untuk dapat menjadi pemimpin di kampung, serta dapat mendukung pelayanan pastoral di paroki dan stasi. Hal ini sesuai dengan misi Pemuda Katolik yaitu mewujudkan kader-kader muda Katolik yang berjiwa Kristiani dan memiliki semangat Kebangsaan.
Nelis Tuwong, Sekretaris Pemuda Katolik Komisariat Cabang Merauke , 22/2/2016

TERIMA SKHUN, SISWA SD YPPK KUMBE LULUS 100%

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Seorang siswa menerima SKHUN dari Kepala Sekolah SD YPPK Kumbe

SKP KAME-Pada hari Kamis, 30 Juni 2016 bertempat di SD YPPK Sta. Theresia Kumbe diserahkan SKHUN (Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional) kepada 27 siswa yang telah mengikuti Ujian Nasional Sekolah Dasar pada tanggal 17-19 Mei 2016. SKHUN ini berisikan standar kompetensi siswa selama mengikuti pendidikan di sebuah lembaga pendidikan dalam hal ini di SD YPPK Sta. Theresia Kumbe. Puji Tuhan, tahun ajaran 2015/2016 ini siswa siswi kami semua lulus 100%.
Hasil ini adalah berkat usaha para siswa yang terus giat belajar, serta dukungan dari para orang tua.
Saat penyerahan SKHUN tersebut, kami selaku Kepala Sekolah SD YPPK Sta. Theresia Kumbe berpesan agar para siswa untuk terus belajar..belajar.. dan belajar.. Ini dilakukan agar dapat bersaing di jenjang berikutnya yakni SMP. Dengan mengasah pengetahuan, melatih keterampilan dan memiliki sikap yang baik adalah bekal untuk meraih masa depan yang sukses dan cemerlang.
Yeremias Enga Manuk, Kepala SD YPPK Sta. Theresia Kumbe, 22/7/2016

MISA HUT SKP KAME & SOFT LAUNCHING WEBSITE SKP KAME

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Direktur dan staff SKP KAME foto bersama usai misa

SKP KAME-“Lima belas tahun sudah lembaga ini berdiri. Sebuah usia yang mulai matang, selama itu pula kita telah melewati pelbagai macam kegiatan dan program. Semua itu adalah panggilan gereja, yaitu melayani sesama”.

Kalimat tersebut merupakan penggalan pernyataan Direktur SKP KAME, Pastor Anselmus Amo, MSC saat misa HUT SKP KAME.
Ya, lembaga yang merupakan salah satu organ Gereja Katolik Keuskupan Agung Merauke tersebut merayakan ulang tahun ke-15 yang diperingati setiap tanggal 1 Juli.

Setelah misa, pimpinan dan staff SKP KAME memotong kue ulang tahun dan tiup lilin bersama-sama. Pada acara ulang tahun kali ini, ada sebuah kado spesial, yaitu hadirnya website SKP KAME (www.skpkame.com). Jadi, momen ulang tahun ini juga sekaligus soft launching website SKP KAME. Kehadiran website ini diharapkan dapat menjadi media pekabaran keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan dari tanah Papua, terlebih khusus dari wilayah Keuskupan Agung Merauke yang meliputi Kabupaten Merauke, Mappi, dan Boven Digoel. Hal ini sesuai dengan salah satu misi SKP KAME yaitu pemulihan hak masyarakat adat dan seluruh ruang hidupnya.***CT

KESADARAN BERLALU LINTAS LEMAH, KECELAKAAN SERING TERJADI

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Akhir-akhir ini kalau sa naik motor di seputaran Jalan Raya Mandala atau Jalan Brawijaya, Merauke sa harus ekstra hati-hati. Bahkan sa bisa bilang macam nonton film horor. Kenapa bisa begitu? Apa hubungannya nonton film horor dengan naik motor?
Banyak sekali pengguna jalan di Merauke saat ini tidak patuh pada rambu-rambu lalu lintas seperti; tidak pakai helm, tabrak lampu merah, tidak menyalakan lampu sen waktu tikung, dan lain-lain. Saya sebagai pengguna jalan juga was-was. Bisa-bisa saya tertabrak (dan memang saya pernah ditabrak kendaraan lain yang tidak patuh pada rambu-rambu lalu lintas). Kalau kita baca di media, banyak sekali kecelakaan yang terjadi gara-gara pengendara kendaraan bermotor lalai.
Sa pikir kejadian buruk ini akibat masih minimnya pengetahuan masyarakat terhadap peraturan lalu lintas yang berlaku. Bisa jadi karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk mencari tahu peraturan lalu lintas atau rambu-rambu lalu lintas. Anak-anak remaja (secara usia masih belum cukup umur) dapat bebas mengendarai kendaraan bermotor, bahkan atas persetujuan orang tua. Selain itu, masyarakat juga melihat ulah ‘oknum’ aparat penegak hukum yang justru melanggar lalu lintas. Ngapain harus ikut rambu-rambu lalu lintas? Sedangkan ada ‘oknum’ aparat yang justru melanggar rambu-rambu tersebut. Di sisi lain, jika masyarakat melanggar, saat ikut sidang nanti paling bayar hanya Rp 100.000 sampai Rp 500.000.
Kebiasaan ini lama kelamaan jadi semacam ‘budaya’ yang buruk. Kira-kira apa yang dapat dilakukan supaya kebiasaan ini tidak semakin parah? Sa usul supaya pemerintah (tentunya bersama kepolisian) lebih mensosialisasikan rambu-rambu lalu lintas kepada masyarakat. Selain kepada masyarakat juga ke sekolah-sekolah atau komunitas anak-anak muda dan remaja agar mereka tahu aturan berlalu lintas dengan baik. Dan yang paling penting adalah menindak tegas setiap pelanggar lalu lintas tanpa pandang bulu. Mau masyarakat biasa, PNS, pejabat, bahkan aparat penegak hukum sekalipun.
Yohanes Eperi, Warga Kelurahan Mandala, 18/7/2016

ENSIKLIK ‘LUMEN FIDEI’ Terang Iman (Bagian Pertama

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Ensiklik ‘Lumen Fidei’ (Terang Iman) adalah ensiklik pertama dari Paus Fransiskus. Ensiklik ini ditandatangani pada tanggal 29 Juni 2013 dan dipromulgasikan satu minggu sesudahnya, tepatnya pada tanggal 5 Juli 2013. Lumen Fidei (LF) berbicara tentang iman akan Yesus Kristus, yang merupakan anugerah agung Allah bagi manusia dan dunia.

Ensiklik ini terdiri dari empat bab yang diawali dengan pendahuluan dan diakhiri dengan ajakan untuk mengarahkan pandangan kepada Ibu Maria. Pendahuluan (no. 1-7) berisi tentang latar belakang, maksud dan tujuan Ensiklik. Bab Pertama (no. 8-22) menguraikan tentang paham iman mengacu pada pengalaman iman Abraham. Bab Kedua (no. 23-36) membahas iman dalam kaitannya dengan kebenaran, akal budi, pencarian akan Allah dan teologi. Bab Ketiga (no. 37-49) berbicara tentang penerusan iman sepanjang sejarah dan seluas dunia. Bab Keempat (no. 50-60) menerangkan tentang iman sebagai sebuah proses membangun suatu tempat di mana manusia bisa hidup bersama dengan orang lain.

Ensiklik ini tergolong unik. Mengapa? Karena ditulis oleh “empat tangan”. Draf pertama ensiklik ini disiapkan oleh Paus Benediktus XVI sedang sentuhan akhir diberikan oleh Paus Fransiskus. Lumen Fidei meski dilihat sebagai kelanjutan dari Magisterium Gereja sebelumnya, yang dipanggil untuk meneguhkan umat beriman akan kekayaan Iman yang tak ternilai yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Di satu sisi, ensiklik ini melengkapi trilogi ensiklik yakni Deus Caritas Est (2005) tentang kasih dan Spe Salvi (2007) tentang harapan. Di sisi lain, sebagai ensiklik pertama, Lumen Fidei bisa dilihat sebagai arah kepausan Bapa Suci Fransiskus dalam menggembalakan Gereja zaman ini ke masa depan.
Iman Adalah Terang
Di zaman modern ini, iman sering diperlawankan dengan pengetahuan. Iman dianggap sebagai ilusi, sesuatu yang menghambat kebebasan manusia untuk mengeksplorasi cara-cara baru bagi masa depan. Bagaimanapun, pelan namun pasti, menjadi semakin jelas juga di zaman ini bahwa sains dan teknologi tidak memadai untuk menerangi masa depan. Hari esok tetap diwarnai dengan bayang-bayang ketidakpastian. Sebagai akibatnya, manusia meninggalkan pencariannya akan terang sejati dan menjadi puas dengan terang-terang kecil yang memberi kedamaian sesaat namun tidak mampu menunjukkan jalan.

Berhadapan dengan krisis iman zaman ini, melalui ensiklik ini, Paus ingin menegaskan pentingnya menemukan kembali terang iman. Iman adalah cahaya yang mampu menerangi setiap aspek esistensi manusia (LF 4). Iman lahir dari suatu perjumpaan personal dengan Allah yang hidup, yang menyatakan kasih-Nya dan yang memanggil kita untuk menjadikannya sebagai jaminan hidup dan keselamatan.
Sumber: Komkat KWI.

PESAN RAMADHAN & IDUL FITRI DARI VATIKAN

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama Vatikan menerbitkan dokumen tentang pesan Ramadhan dan Idul Fitri 1437 H kepada umat Islam di seluruh dunia, yang pesan diberi judul “Christians and Muslims: Beneficieries and Instruments of Divine Mercy”.
Sekretaris tiga KBRI Tata Suci Vatikan Sturmius Teofanus Bate kepada Antara London, Jumat (1/7/2016) mengatakan pengiriman pesan Ramadhan dan Idul Fitri bagi umat Islam merupakan tradisi tahunan bagi Vatikan yang dilakukan setiap tahun selama 43 tahun terakhir.

Sturmius Teofanus Bate menjelaskan pesan tersebut umumnya dikirim menjelang akhir bulan suci Ramadhan atau sebelum perayaan Idul Fitri, baik melalui perwakilan diplomatik negara sahabat di Vatikan maupun melalui Kedutaan Besar Vatikan (Nunciature) Vatikan di seluruh dunia.

Pesan Ramadhan dan Idul Fitri 1437 Hijriah kali ini berisikan beberapa hal penting, di antaranya harapan agar umat Islam yang menjalankan ibadah puasa mendapatkan pahala yang berlimpah. Vatikan menyampaikan harapan semoga Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat hubungan spiritual antara umat Kristiani dan Islam.

Melalui pesan yang ditulis Kardinal Jean-Louis Tauran tersebut, Vatikan memberi penekanan pada kesamaan antara Kristiani dan Islam, karena umat Kristiani dan Islam sama-sama mengimani Allah sebagai sosok yang Maha Pengampun dan mengasihi segala makhluk ciptaan-Nya, termasuk manusia.

Pesan Ramadhan mengutip pernyataan Paus Fransiskus, Jubilee of Mercy, adalah momentum untuk saling memaafkan, saling mengampuni, momentum untuk menyembuhkan luka yang diakibatkan oleh konflik serta momentum yang tepat untuk rekonsiliasi dalam khotbah Paus Fransiskus tanggal 11 April tahun lalu.

Salah satu poin penting yang digarisbawahi dalam pesan Ramadhan tersebut bahwa umat Kristiani dan Islam terpanggil untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, yakni dengan cara mengasihi dan menyayangi satu dengan yang lain.
Dalam hal ini, Vatikan mendorong umat Kristiani dan Islam untuk memberi perhatian terhadap mereka yang kondisinya terpuruk dalam konflik dan peperangan, korban perdagangan manusia, kaum miskin, penderita sakit, korban bencana alam serta pengangguran yang diakibatkan oleh ketidakadilan sosial.

Guna menghadapi berbagai tantangan sosial tersebut, Vatikan mengajak umat Kristiani dan Islam bekerja sama saling membantu sesamanya yang membutuhkan. Kerja sama yang erat antarumat Kristiani dan Islam dalam hal ini dinilai sebagai sumber harapan yang besar serta perwujudan dari ajaran agama masing-masing.
Kardinal Tauran mengakhiri pesan dengan mengekspresikan doa dan harapannya semoga umat Islam mendapatkan berkah yang berlimpah dan sukacita dalam perayaan Idul Fitri 1437 Hijriah. (suara.com)

Cerita Singkat Pengalaman Masyarakat Dari Kampung Ujungkia (Mie Busu), Distrik Kia, Kabupaten Boven Digoel – Papua

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Saat ini, perusahaan PT. Tunas Sawa Erma, (Korindo Group) melakukan pembongkaran hutan dan menggusur tanah-tanah, rawa, dusun sagu, tempat keramat dan sebagainya di wilayah Asiki dan Jair, sekitar Kali Digoel, untuk usaha perkebunan kelapa sawit. Padahal awalnya, perusahaan mengatakan hanya bekerja mengolah kayu saja untuk membuat industri kayu lapis di Asiki. Di wilayah tersebut hidup masyarakat adat Mandobo (Asiki) dan Suku Auyu (Jair).

Kebanyakan masyarakat Suku Auyu yang berdiam di wilayah Kampung Ujungkia, Distrik Kia, tidak setuju dan menolak kegiatan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Tetapi perusahaan terus berusaha untuk masuk dan terjadi intimidasi/pemaksaan yang dilakukan oleh oknum-oknum orang suruhan perusahaan. Perusahaan mengunakan jasa aparat keamanan untuk berhadapan dengan masyarakat saat sosialisasi atau negosiasi, sehingga masyarakat gugup dan takut untuk menyampaikan pendapat atau pertimbangan. Musyawarah dan mufakat tidak ada. Perusahaan mengatur sendiri saja. Masyarakat tidak pernah diberikan informasi rencana kegiatan perusahaan secara memadai, termasuk dokumen mengenai analisa dampak lingkungan (AMDAL), perizinan perusahaan dan sebagainya.

Perusahaan memberikan kompensasi yang nilainya tidak adil dibandingkan luasan areal konsesi. Perusahaan membuat janji-janji dan tidak ditepati, perusahaan tidak membantu kesulitan masyarakat yang kehilangan mata pencaharian, terjadi konflik batas dusun antar marga dan suku. Masyarakat tidak rasakan manfaat kehadiran perusahaan. Hanya oknum tertentu saja yang menerima manfaat, sementara ratusan orang dari marga-marga pemilik dusun tidak dapat apa-apa, tidak ada jaminan kesehatan, pendidikan tidak berjalan baik. Masyarakat kecewa dengan kehadiran perusahan ini.

Dampak yang dirasakan masyarakat, yaitu luas hutan di wilayah Jair sudah berkurang dan hampir habis. Dusun-dusun tempat cari makan sudah tidak ada, tempat keramat hilang, peninggalan leluhur hilang. Masyarakat adat takut jadi tukang minta-minta (pengemis) di jalan-jalan. Dahulu sebelum ada perusahaan, kehidupan masyarakat rukun dan dapat terpenuhi kebutuhannya. Orang mengatakan Suku Auyu Jair cinta kasihnya tinggi. Sekarang tidak ada lagi, masyarakat mulai malas kerja, minuman keras beralkohol beredar bebas, judi-judian, pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hampir setiap saat terjadi.

Kami masyarakat berharap pemerintah harus bertindak tegas kepada perusahaan ini (PT. Tunas Sawa Erma), sebab marga-marga sampai sekarang masih bingung dengan rencana kerja perusahaan, juga ganti rugi dari kerusakan hutan yang ada. Perusahaan angkat kaki saja karena tidak memberi manfaat positif bagi masyarakat.

(Sumber: Masyarakat Kampung Ujungkia)

Cerita Singkat Pengalaman Masyarakat Dari Kampung Meto (Meeto Busu), Distrik Subur, Kabupaten Boven Digoel – Papua

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Kampung Meto, Distrik Subur, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. Masyarakat suku Auyu/Jair adalah pemilik tanah adat di wilayah kampung Meto. Perusahaan yang akan beroperasi di wilayah adat masyarakat kampung Meto,yakni PT. Usaha Nabati Terpadu (Menara Group).

Tidak pernah ada sosialisasi yang baik kepada masyarakat di kampung Meto tentang jaminan hidup bagi masyarakat, termasuk hak-hak dan batas-batas marga dengan marga lain. Masyarakat sangat takut akan mengalami tantangan dan kesulitan, bahkan kehilangan tempat hidup sampai dengan anak cucu di masa depan. Perusahaan saat itu mengundang perwakilan masyarakat untuk ke Tanah Merah. Hasil pertemuan itu tidak pernah diberitahu kepada masyarakat di kampung Meto. Tiba-tiba perusahaan minta masyarakat tanda tangan dokumen pembayaran ‘Tali Asih’ sebesar Rp 1.450.000.000 di satu marga Woboi dan marga Afu sebesar Rp 290.000.000.

Setelah pembayaran ‘Tali Asih’, masyarakat menyampaikan usulan kepada perusahaan, tetapi usulan atau suara masyarakat itu diredam oleh oknum-oknum yang menjadi kaki tangan perusahaan.

Masayarakat juga khawatir akan kehilangan hak hidup untuk selamanya. Rawa sagu, sungai-sungai kecil, tempat keramat, binatang buruan, dan hutan hilang. Saat ini memang perusahaan belum bekerja, namun kekhawatiran masyarakat pun cukup besar.

Masyarakat belum merasakan manfaat apa-apa dari perusahaan ini, sebab perusahaan belum beroperasi. Di sisi lain, kompensasi yang akan diterima masyarakat tidak jelas. Masyarakat ragu karena jangan sampai uang ‘Tali Asih yang diserahkan tersebut adalah kompensasi.

Masyarakat mengakui bahwa masuknya perusahaan ini juga ada keterlibatan oknum-oknum yang mengaku sebagai ‘koordinator lapangan (korlap) dari PT. Menara Group, termasuk oknum notaris PPAT dari Merauke.  Masyarakat kampung Meto mengakui juga bahwa tidak satu dokumen pun yang dipegang oleh masyarakat.

Masyarakat Kampung Meto meminta kepada pemerintah daerah kabupaten Boven Digoel untuk meninjau kembali akta notaris yang dibuat oleh notaris PPAT di Merauke, karena akta tersebut dibuat sepihak oleh perusahaan masyarakat tidak pernah membaca terlebih dahulu dokumen tersebut dan tidak tahu isi akta tersebut, masyarakat dibodohi

(Sumber: Masyarakat Kampung Meto)

Cerita Singkat Pengalaman Masyarakat Dari Kampung Anggai (Angge Bucu), Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel-Papua

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Kampung Anggai, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua.

Masyarakat kampung Anggi berasal dari suku Auyu/Jair.

Tidak ada kejelasan tentang kontrak karya PT. Mega Karya Jaya Raya (Menara Group), masyarakat mulai merasakan perubahan, seperti kebiasaan hidup mengasihi sesama dan saling memberi mulai hilang, ada saling cemburu antar masyarakat, irihati di antara masyarakat. Ada kekawatiran besar dari masyarakat kalau kemudian hutan dan dusun tempat cari makan akan hilang, sumber air alam rusak, dusun sagu hilang, tempat-tempat keramat rusak.

Masyarakat mengetahui bahwa perusahaan akan masuk sekitar tahun 2007. Ada pemberitahuan kepada masyarakat tentang survei yang akan dilakukan oleh Dinas Kehutanan dan pihak perusahaan sendiri. Pada awalnya masyarakat tertarik karena perusahaan janji, setelah perusahaan sudah mulai ekspor minyak sawit, perusahaan akan memberikan jaminan hidup (jadup) setiap bulan kepada masyarakat untuk masing-masing kepala keluarga sebesar 5 juta rupiah, termasuk biaya sekolah, air bersih, listrik, dll. Masyarakat menunggu sampai sekarang belum ada realisasi.

Masyarakat merasa ditipu oleh pihak perusahaan, karena janji-janji perusahaan tidak pernah ditepati.

Dusun sagu milik masyarakat digusur dan ditimbun dengan tanah, kompensasi kayu tidak dibayarkan sesuai SK Gubernur Tahun 2008, termasuk pohon nibung, rotan, sagu, dan kayu berdiameter 20 ke bawah tidak dihitung. Jadi masyarakat hanya dapat ganti rugi Rp. 12.000/kubik dari luas areal 200 hektar sekarang.

Belum ada satu pun manfaat yang masyarakat rasakan dari kehadiran perusahaan ini. Masyarakat hanya bekerja sebagai buruh harian lepas (BHL) tanpa jaminan hidup yang jelas. Ada oknum-oknum tertentu yang diduga terlibat dalam proses pelepasan tanah adat milik masyarakat ini.

Tidak ada satu salinan dokumen apa pun yang diberikan kepada masyarakat untuk dipelajari. Perusahaan mulai bekerja tahun 2013.

Masyarakat sudah beberapa kali berbicara dengan pihak perusahaan, tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Sekarang akhirnya masyarakat menyerah dan pasrah diri menghadapi kehendak perusahaan. Masyarakat berharap supaya pemerintah mau membantu dan berpihak kepada masyarakat, terutama peninjauan kembali ijin dan perjanjian dari PT. Mega Karya Jaya Raya (Menara Group)

‘Janji adalah utang, jadi utang itu harus di bayar’

(Sumber: Masyarakat Kampung Anggai)

Sejak Awal 2000-an Harga Udang di Payum Tidak Pernah Naik

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Harga udang di Pantai Payum, Kelurahan Samkai dari awal tahun 2000-an sampai sekarang tidak pernah berubah. Harganya per kilogram antara Rp 15.000 (ukuran sedang) sampai Rp 40.000 (udang gross/ukuran besar). Udang-udang ini dibeli langsung di pinggir pantai oleh para penadah. Kalau dijual di Pasar Wamanggu harganya jauh lebih mahal.

Harga udang di Pantai Payum ini tidak sebanding dengan harga-harga barang di kios yang terus naik.
Dua atau tiga tahun lalu sebenarnya ada pertemuan antara warga Payum dengan para penadah. Waktu itu pertemuannya juga dihadiri oleh Lurah Samkai.

Warga Payum yang merupakan nelayan lokal mau supaya harga udang ini dinaikkan paling tidak jadi Rp 17.000. Waktu itu tidak semua pembeli/penadah sepakat dengan harga ini. Alasannya nanti dorang (penadah) mau jual dengan harga berapa di pasar yang ada di Kota Merauke. Mereka juga takut kalau beli dengan harga itu (Rp 17.000) bisa-bisa rugi. Akhirnya tidak ada kata sepakat dalam pertemuan itu. Penadah tetap beli udang kami dengan harga Rp 15.000.

Sebagai pelajar, kami rasa prihatin dengan kondisi ini. Kami tahu karena biasanya kami ikut orang tua tarik jaring di pantai.  Kami juga tidak bisa buat apa-apa. Kalau orang tua kami menaikkan harga udang, penadah dorang nanti tidak mau beli. Kalau mereka tidak mau beli, bisa-bisa kami tidak sekolah.

Petrus dan Paulus, Pelajar dari Payum, Kelurahan Samkai , 22/2/2016

Prioritas Program

Chart
  • 01 Penegakan keadilan dan Demokratisasi
  • 02 Membangun Budaya Damai
  • 03 Keutuhan Alam Ciptaan
  • 04 Perlindungan Perempuan dan Anak

Partner Links

  • Link Mitra 1
  • Link Mitra 2
  • Link Mitra 3
  • Link Mitra 4
  • Link Mitra 5
  • Link Mitra 6