Author Archive

PERUSAHAAN MASUK, WARGA KEHILANGAN HAK

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Ilustrasi warga berjalan kaki di atas lahan yang sudah ditebang

SKP KAME-Tahun 2010 ada perusahaan yang mulai masuk ke wilayah Kampung Selil dan adakan pendekatan dengan warga. Bukan hanya di kampung Selil saja, tapi juga di kampung tetangga, Kampung Kindiki. Pendekatan ini perusahaan lakukan kurang lebih selama satu tahun sampai tahun 2011. Tahun 2012, perusahaan mulai buka lahan untuk persemaian bibit sawit. Ternyata lahan yang dibuka bukan saja untuk persemaian bibit sawit, tapi sekaligus untuk perkebunan kelapa sawit.

Luas areal wilayah adat Wambon Tekamerop di Kampung Selil yang perusahaan buka 6.636 Hektar. kami kurang dapat informasi berkaitan dengan rencana kerja perusahaan di wilayah adat kami.

Sampai saat ini, kami belum dapat dokumen AMDAL dari perusahaan. Waktu sidang AMDAL juga tidak ada warga Kampung Selil yang tahu dan ikuti sidang ini. Sebagai pemilik wilayah adat, harusnya kitorang juga tahu.

Sampai saat ini, CSR belum maksimal, padahal sudah 5 tahun perusahaan beroperasi. Kebutuhan atau permintaan warga yang merupakan kewajiban perusahaan berupa beasiswa bagi anak sekolah dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, bantuan untuk lansia, perumahan, dan lain-lain sampai sekarang belum berjalan. Anak-anak Kampung Selil tidak ada yang dipekerjakan oleh perusahaan. Kalaupun ada, itu dari kampung sebelah, dan jadi buruh kasar, bukan jadi karyawan.

Tahun 2012, kami tuntut perusahaan untuk bayar ganti rugi. Persoalan ganti rugi tanah ini sampai sekarang belum selesai 100%.

Perusahaan buka lahan, tanpa persetujuan kami. Kesepakatan justru dilakukan dengan kampung tetangga tanpa libatkan kami. kami akhirnya tuntut perusahaan bayar sekitar 7 milyar rupiah, dibagi kepada tiga (3) marga besar: Mahuze, Basik-Basik, dan kami sendiri dari Wambon Tekamerop.

Dari 7 milyar itu, perusahaan kasih turun sampai kurang lebih 1 milyar rupiah. kami dapat 300-an juta rupiah yang dibagi lagi kepada 5 sub marga. Jadi masing-masing sub marga dapat kurang lebih 60 juta rupiah.

tuntutan kami ini secara administrasi tidak dipenuhi perusahaan. Kami minta ganti rugi, yang ditanggapi kubikasi kayu saja.

Kami tidak puas dengan hal ini. Karena negosiasi dalam bentuk pelepasan dan lain-lain itu kami sama sekali tidak pernah tanda tangan.

Dampak Negatif

Dampak-dampak lingkungan sudah mulai kami rasakan. Dulu Kali Bian itu jernih. kami bisa mandi dan konsumsi airnya. Ketika perusahaan masuk, kebetulan posisinya ada di Kepala Kali Bian, limbahnya mengalir langsung ke kami puya Kampung Selil. Ini sangat dimungkinkan karena jarak dari pabrik ke Kampung Selil hanya 3 KM.

kami sekarang rasa susah. Hutan hilang, tempat cari makan sudah tidak ada lagi. kami kehilangan hak, diambil oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, yang cuma mau untung saja tapi mengorbankan masyarakat adat.

Linus Omba, Warga Kampung Selil, 11/8/2017

HARGA PER KILO RP 3.000 WARGA TIDAK SADAP KARET LAGI

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Ilustrasi pohon karet

SKP KAME-Di Kampung Selil, Distrik Ulilin, salah satu hasil bumi masyarakat adalah usaha tanam karet. Pohon karet adalah salah satu komoditas terkenal dari Indonesia. Pohon karet bisa tumbuh selama lebih dari 100 tahun dan bisa tumbuh mencapai ukuran ketinggian antara 30 hingga 40 meter. Getah karet inilah yang menjadi salah satu hasil utama dari pohon karet.

Hanya saja, sekarang ini harganya jatuh sekali sampai Rp 3.000. Padahal dulu harganya Rp 20.000 – Rp 25.000. Karena harga karet yang terlalu jatuh, akhirnya warga meninggalkan tanaman karetnya.

Selama ini pengiriman bibit dan pelatihan untuk petani karet lancar dari pemerintah, tapi harga dan pasarnya tidak ada. kami minta, bukan hanya pelatihan dan pengiriman bibit saja, tapi juga harga dan pasaran karet.

Kami sudah berulang kali sampaikan hal ini ke pemerintah melalui pihak distrik dan dinas terkait yang datang saat kasih pelatihan, sampai melalui MUSREMBANG juga kami bahas, tapi hasilnya sama saja, harga karet tetap jatuh.

Pemerintah itu, jangan kasih bibit karet baru bicara sawit. Kasih pelatihan tentang karet, tapi kami punya lahan dibuka untuk sawit lagi.

Kalau bicara kelapa sawit, kami tidak tahu, buta sama sekali. Tapi kalau karet, kami tahu. Mulai dari pembabatan, penanaman, sampai dengan hasilnya.

Kalau harga karet jatuh, ya terpaksa kami tinggalkan kebun karet dan cari sumber mata pencaharian lain yang bisa menghidupi keluarga kami. Salah satunya ya jualan ikan saja, tapi itu juga pakai musim, tidak tiap hari.

Linus Omba, Warga Kampung Selil, 11/8/2017

PELATIHAN PARALEGAL BAGI SEKSI KPKC PAROKI SE-DEKENAT MUTING

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Seorang peserta sedang menyampaikan hasil diskusi kelompok

SKP KAME-Tanggal 28 – 30 Agustus 2017, atas kerjasama KKPPMP – KWI dan SKP KAME dilaksanakan Pelatihan Paralegal bagi Seksi KPKC Paroki Se- Dekenat Muting. Tempat pelatihan di Gedung Serbaguna Paroki Muting.

Kegiatan yang diikuti oleh 113 peserta ini berasal dari Paroki Bupul, Paroki Erambu, dan, Paroki Muting. Selain itu turut hadir perwakilan peserta dari wilayah Paroki Getentiri, dan Paroki Tanah Merah.

Narasumber kegiatan ini Pastor Christian Siswantoko, Pr, Bapak Azas Tigor Nainggolan, SH, dan Pastor Anselmus Amo, MSC.

Tanggal 29 Agustus 2017 sesi pertama oleh Pastor Christian Siswantoko, Pr tentang apa itu Hak Asasi Manusia (HAM). Beliau menjelaskan tentang pengertian HAM itu sendiri, sifat dan syaratnya.

Sesi II Bapak Azas Tigor Nainggolan dengan materi Pastoral Advokasi itu Melayani. Pengertian advokasi yaitu cara memperjuangkan hak-hak asasi.

Rencana strategi advokasi yaitu masalah, fakta/ bukti dan perubahan. Paralegal yaitu orang yang bisa membantu/menolong sesama masyarakat yang menjadi korban perampasan hak/ pelanggaran HAM.

Rabu 30 Agustus 2017 oleh Pastor Anselmus Amo, MSC. Diskusi Per Paroki tentang Persolan Hak Asasi Manusia.

Tanggapan dari peserta: dari awal sampai akhir kegiatan mereka sangat senang dan antusias. Mereka sangat bersyukur dengan adanya kegiatan ini, karena mereka jadi tahu dan mengerti bagaimana menjadi paralegal dan cara-cara memperjuangkan HAM.

Pada Pelatihan Paralegal ini juga disepakati 5 poin:

  1. Berkomitmen dan kompak untuk tidak melepaskan tanah dan hutan adat kepada pihak perusahaan
  2. Membuat patok batas wilayah adat
  3. Merencanakan dan memanfaatkan wilayah adat untuk:
  4. Situs sejarah leluhur/moyang
  5. Sumber pangan dan budaya: hutan, rawa, sagu, binatang/burung
  6. Pengembangan ekonomi: kelapa, karet, durian, rambutan, dll
  7. Memajukan pendidikan bagi anak-anak untuk masa depan
  8. Terkait pelanggaran HAM: melakukan advokasi dalam 10 tahapan.***TN

PEMUDA DAN TANTANGAN KEBANGSAAN

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Bung Karno pernah berkata, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Pemuda, menurut Bung Karno sangat spesial, sosok yang berani, bertanggung jawab, cerdas, kreatif, pantang mundur, berjiwa kepemimpinan, dan pembawa perubahan.

Kita tentu ingat perjalanan sejarah bangsa ini yang menempatkan peran pemuda sebagai pilar dan motor untuk mencapai kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Di mulai dari Budi Utomo tahun 1908, Sumpah pemuda tahun 1928, hingga reformasi tahun 1998 yang menumbangkan rezim orde baru, semuanya tidak lepas dari peran pemuda sebagai motor penggerak perubahan.

72 tahun sudah Republik Indonesia merdeka. Lewat perjuangan, keringat, darah, dan air mata kemerdekaan dapat kita raih. Setelah 72 tahun Indonesia merdeka, ternyata kita masih menghadapi berbagai tantangan yang terus saja merong-rong kehidupan berbangsa dan bernegara.

Akhir-akhir ini kita disuguhkan dengan korupsi, kolusi dan nepotisme yang menurut saya sudah sangat akut. Banyak pejabat publik mulai dari anggota DPR, BUMN, sampai kepala daerah yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi karena kasus KKN. Beberapa diantaranya bahkan tertangkap tangan. Ada lagi kasus suap yang ternyata melibatkan oknum dalam institusi penegak hukum. Rakyat akhirnya bertanya-tanya, kalau institusi penegak hukum saja melanggar hukum, lantas siapa lagi yang akan mengawal hukum di negeri ini?

Selain kasus-kasus KKN, hampir setiap saat kita dengar tindakan kekerasan atas nama suku, ras, dan agama. Pihak-pihak yang merasa paling benar melukai saudara se-bangsanya dengan melakukan intimidasi hanya karena perbedaan identitas dan keyakinan.

Publik di Indonesia juga gaduh karena ujaran kebencian (hate speech) yang merajalela melalui media sosial. Orang dengan gampangnya memaki-maki, mengeluarkan ujaran yang melukai sesama. Menurut Surat Edaran Kapolri No. 6/X/2015 tentang Ujaran Kebencian ada 7 bentuk ujaran kebencian: penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, memprovokasi, menghasut, dan menyebarkan berita bohong. Beberapa orang ‘diamankan’ Polisi karena menyampaikan konten hate speech. Salah satunya, Tamim Pardede yang dimankan Polisi setelah mengungah konten bermuatan ujaran kebencian di youtube. Adalagi kakak beradik Jamran dan Rizal dijatuhi hukuman penjara 6 bulan 15 hari akibat mengungah twit bermuatan sentimen negatif terhadap etnis Tionghoa.

Terkait berita bohong ini, yang terbaru bahkan ada kelompok SARACEN yang memang dibayar untuk menyebarkan berita bohong atau hoax. Salah satunya contoh nyata keterlibatan kelompok ini dan sukses adalah kasus Ahok yang akhirnya dijebloskan ke penjara.

Berbagai tantangan di atas, tentu saja berpotensi mencabik-cabik kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita yang hidup aman, damai, dan tentram bisa saling memusuhi satu dengan yang lainya. Timbul rasa cemas, was-was dan khawatir kalau-kalau kita yang jadi korban.

Sebagai pemuda, kita dituntut untuk menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah dengan melakukan tindakan preventif.

Kita harus bisa mengisi kemerdekaan yang sudah diperjuangkan pendahulu kita dengan berbagai prestasi sesuai kemampuan kita masing-masing. Lebih baik menyalakan lilin, dari pada mengutuki kegelapan. Lebih baik berbuat sesuatu dari pada hanya diam dan menggerutu tiada henti.

Laurens Doderang, Pemuda Kampung Kurik, 20/8/2017

RENCANA KUNJUNGAN PAUS FRANSISKUS KE MYANMAR DAN BANGLADESH

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Aung San Suu Kyi, pempimpin Myanmar bertemu Paus Fransiskus, Mei 2017 (CNS photo/Paul Haring)

SKP KAME-VATIKAN – Pemimpin Vatikan, Paus Francis dilaporkan berencana untuk mengunjungi Myanmar dan Bangladesh pada akhir November dan awal Desember mendatang. Kedua negara itu saat ini terjebak dalam krisis mengenai minoritas Muslim Rohingya.

Melansir Russia Today pada Senin (28/8), Vatikan mengatakan Paus Francis akan mengunjungi Myanmar sejak tanggal 27 sampai 30 November, berhenti di Yangon dan di ibukota, Naypyitaw. Dia akan mengunjungi ibu kota Bangladesh, Dhaka, sejak tanggal 30 November sampai 2 Desember.

Pengumuman tersebut datang tidak lama setelah penjaga perbatasan Bangladesh mendorong ribuan Muslim Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan terburuk di Myanmar dalam lima tahun.

Pada bulan Februari, Paus Francis mengeluarkan kritik pedas soal perlakuan terhadap komunitas Rohingya di Myanmar, dengan mengatakan bahwa mereka telah disiksa, dan dibunuh hanya karena mereka ingin menjaga budaya dan kepercayaan Muslim mereka.

Sekitar 1,1 juta orang Rohingya tinggal di negara bagian Myanmar, Rakhine, namun ditolak kewarganegaraannya dan menghadapi pembatasan perjalanan yang berat.

Situasi di Rakhine sendiri saat ini tengah memanas, setelah adanya serangan yang dilancarkan kelompok milisi Rohingnya. Serangan ini direspon oleh militer Myanmar dengan melakukan operasi pembersihan.

Operasi ini membuat situasi kemanusiaan memburuk. Militer Myanmar dilaporkan tidak pandang bulu dalam melakukan serangan, karena turut menyerang wanita dan juga anak-anak.

sumber: sindonews.com

Kisah Heroik Mendur Bersaudara di Balik Foto Proklamasi 1945

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Suatu pagi pada 17 Agustus 1945, di salah satu halaman rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 terlihat ramai. Rumah itu adalah milik Laksamana Muda Tadashi Maeda, seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di Hindia Belanda. Beberapa pemuda sedang sibuk menyiapkan tiang tinggi dari bambu untuk upacara bendera. Sebagian lainnya sibuk mempersiapkan podium sederhana, tempat dibacakannya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ya, hari itu adalah hari yang paling bersejarah bagi berdirinya Indonesia.

Hampir sebagian rakyat Indonesia pasti pernah melihat foto presiden pertama Indonesia, Soekarno sedang membacakan teks proklamasi. Foto berwarna hitam putih dengan latar belakang sosok Mohammad Hatta itu memang merupakan salah satu foto paling bersejarah bagi Indonesia. Namun siapakah sosok dibalik dokumentasi foto itu?

Pada saat itu, Jepang telah menyerah tanpa syarat dan menyatakan kekalahannya kepada sekutu, namun informasi tersebut belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Bendera Hinomaru (bendera Jepang) masih banyak berkibar di langit Indonesia kala itu. Bukan hanya itu, Jepang juga memblokade radio agar tidak dapat mengudara.

Adalah Alex Mendur dan Frans Mendur, kakak beradik yang secara diam-diam berhasil mendokumentasikan momen berharga sejarah berdirinya Indonesia kala itu.

Alex Mendur lahir pada 1907, terpaut enam tahun dari sang adik, Frans Mendur yang lahit pada tahun 1913. Frans belajar forografi kepada Alex Mendur yang sudah lebih dulu menjadi wartawan di Java Bode, koran berbahasa Belanda di Jakarta. Frans kemudian mengikuti jejak saudaranya menjadi wartawan pada tahun 1935.

Tepatnya pada hari proklamasi, Mendur bersaudara merapat ke rumah proklamasi pukul 05.00 pagi, tata kala matahari masih beradu di garis horizon sebelah timur. Pada awalnya, Frans Sumarto Mendur mendengar kabar akan diadakannya proklamasi dari Harian Asia Raya.

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

 

SKP KAME-Sang kakak, Alexius Impurung Mendur yang menjabat sebagai kepala bagian fotografi kantor berita Jepang Domei juga mendengar hal serupa. Dedua Mendur bersaudara ini pun segera membawa kamera mereka dan mengambil rute terpisah menuju kediaman yang dimaksud.

Dari tiga frame film yang tersisa, Frans berhasil mengabadikan tiga foto. Foto pertama yakni ketika Soekarno membaca teks proklamasi. Foto kedua, ketika Latief Hendraningrat, anggota PETA (Pembela Tanah Air) mengibarkan bendera Merah Putih di halaman kediaman Terauchi. Foto ketiga, gambaran suasana upacara para pemuda ketika sang Merah Putih tengah dikibarkan.

Ketika upacara selesai, Mendur bersaudara secepatnya meninggalkan lokasi proklamasi. Mereka diburu tentara Jepang. Tentara jepang berhasil menangkap Alex Mendur dan menyita foto-foto yang berhasil didapatnya. Namun keberuntungan masih berpihak kepada Frans Mendur. Ia berhasil meloloskan diri dan sempat mengubur negatif foto di tanah dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor Harian Asia Raya. Frans tertangkap kemudian, namun ia mengaku negatif foto itu sudah diambil barisan pelopor.

Perjuangan duo Mendur belum selesai sampai di situ, meskipun negatif foto berhasil diselamatkan, tetapi foto itu masih mentah.

Masih perlu dicuci dan dicetak. Perjuangan mencuci dan mencetak pun tak mudah. Mereka harus diam-diam menyelinap di malam hari, memanjat pohon, sampai melompati pagar guna sampai di kantor Domei (sekarang kantor berita Antara). Foto bersejarah itu kemudian baru dapat dipublikasikan pada 20 Februari 1946.

Bisa dibayangkan apa jadinya jika Alex Mendur dan Frans Mendur tidak berhasil menyelamatkan foto dokumentasi hari proklamasi? Meskipun kehadiran mereka saat proklamasi tidak begitu diperhatikan, tapi berkat foto yang mereka ambil dan berhasil selamatkan, seluruh warga Indonesia bisa mengenang hari proklamasi melalui foto. Pada tahun 2009, barulah mereka dianugerahi penghargaan Bintang Jasa Utama oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

Tugu Pers Mendur

Tugu Pers Mendur yang diresmikan tahun 2013 menjadi satu-satunya monumen yang didirikan untuk mengenang jasa duo Mendur. Monumen tersebut dapat dijumpai di kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangko Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Selain Tugu Pers Mendur, disana juga terdapat sebuah rumah yang di dalamnya terdapat 113 foto hasil jepretan Mendur Bersaudara

Sang kakak, Alexius Impurung Mendur yang menjabat sebagai kepala bagian fotografi kantor berita Jepang Domei juga mendengar hal serupa. Dedua Mendur bersaudara ini pun segera membawa kamera mereka dan mengambil rute terpisah menuju kediaman yang dimaksud.

Dari tiga frame film yang tersisa, Frans berhasil mengabadikan tiga foto. Foto pertama yakni ketika Soekarno membaca teks proklamasi. Foto kedua, ketika Latief Hendraningrat, anggota PETA (Pembela Tanah Air) mengibarkan bendera Merah Putih di halaman kediaman Terauchi. Foto ketiga, gambaran suasana upacara para pemuda ketika sang Merah Putih tengah dikibarkan.

Ketika upacara selesai, Mendur bersaudara secepatnya meninggalkan lokasi proklamasi. Mereka diburu tentara Jepang. Tentara jepang berhasil menangkap Alex Mendur dan menyita foto-foto yang berhasil didapatnya. Namun keberuntungan masih berpihak kepada Frans Mendur. Ia berhasil meloloskan diri dan sempat mengubur negatif foto di tanah dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor Harian Asia Raya. Frans tertangkap kemudian, namun ia mengaku negatif foto itu sudah diambil barisan pelopor.

Perjuangan duo Mendur belum selesai sampai di situ, meskipun negatif foto berhasil diselamatkan, tetapi foto itu masih mentah. Foto Alexius Impurung Mendur dan Frans Mendur Sumber: goodnewsfromindonesia.id

UPACARA BENDERA DALAM RANGKA HUT RI DI DISTRIK MERAUKE

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Warga Distrik Merauke bersama ASN mengikuti upacara HUT RI ke 72 di Kantor Distrik Merauke.

Kepala Distrik Merauke, Kristian Ndiken menyampaikan agar masyarakat di Distrik Merauke untuk bersama-sama mendukung pembangunan.

Ada beberapa lomba yang dibuat seperti tarik tambang, panjat pinang dan aster. Lomba-lomba ini berlangsung sangat meriah.

Markus, Warga Distrik Merauke, 20/8/2017

PERESMIAN TUGU TITIK NOL MERAUKE – SABANG

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Hari Kamis, 17 Agustus 2017, setelah upacara bendera di Distrik Sota, diadakan peresmian Tugu Nol Kilometer Merauke – Sabang, oleh mantan Bupati Merauke, Bapak Romanus Mbaraka. Tugu ini dikerjakan selama kurang lebih 8 bulan merupakan hasil swadaya Kandara Skuter Motor – sebuah komunitas motor skuter di Merauke.

Bapak Romanus Mbaraka dalam sambutannya mengapresiasi pembuatan Tugu Nol Kilometer Merauke – Sabang. Tugu ini merupakan simbol dan wajah Negara Kesatuan Republik Indonesia di ujung timur negara ini.

Hadir dalam acara peresmian Tugu Nol Kilometer Merauke Sabang Plt. Direktur Utama PT. Semen Indonesia (Persero) dan Dirjen Kementrian BUMN Heri Purnomo. Terima kasih kepada semua pihak yang membangun Tugu Nol Kilometer Merauke – Sabang di Kampung Sota, terutama kepada Kandara Skuter Motor. Semoga tugu ini menjadi salah satu ikon Kota Merauke dan Distrik Sota dan semakin banyak orang yang datang ke Kampung Sota yang tentu saja akan menambah pendapat warga.

Urbanus Bohoji, Aparat Kampung Sota, 13/08/2017

RATUSAN WARGA PNG IKUT UPACARA BENDERA DI SOTA

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Ilustrasi pengibaran bendera merah putih

Tanggal 17 Agustus merupakan tanggal bersejarah bagi perjalanan bangsa Indonesia. Presiden Soekarno dan wakilnya Moh. Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sebuah perjuangan panjang dengan berbagai usaha bahkan nyawa untuk memperolehnya.

Untuk memperingati peristiwa tersebut, setiap tanggal 17 Agustus dilaksanakan upacara bendera.

Bertempat di Lapangan Distrik Sota, tahun 2017 ini anak sekolah, TNI, Polri, ASN, BUMN, dan BUMD mengikuti upacara bendera.

Yang menarik, ada sekitar 200-an warga Papua New Guinea ikut dalam upacara bendera ini. Beberapa diantara mereka hampir setiap tahun ikut upacara bendera di Kampung Sota.

200-an warga PNG dari Daru, Western Province yang ikut upacara bendera ini memiliki ikatan kekerabatan dengan warga Sota. Mereka sering pergi – pulang Sota – PNG untuk mencari makan dan mengunjuni keluarga di sini.

Upacara tahun 2017 di Dsitrik Sota dipimpin oleh Plt. Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Bapak Darmawan Junaidi. Urbanus Bohoji, Aparat Kampung Sota, 23/8/2017

Prioritas Program

Chart
  • 01 Penegakan keadilan dan Demokratisasi
  • 02 Membangun Budaya Damai
  • 03 Keutuhan Alam Ciptaan
  • 04 Perlindungan Perempuan dan Anak

Partner Links

  • Link Mitra 1
  • Link Mitra 2
  • Link Mitra 3
  • Link Mitra 4
  • Link Mitra 5
  • Link Mitra 6