PERUSAHAAN MASUK, WARGA KEHILANGAN HAK

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

Ilustrasi warga berjalan kaki di atas lahan yang sudah ditebang

SKP KAME-Tahun 2010 ada perusahaan yang mulai masuk ke wilayah Kampung Selil dan adakan pendekatan dengan warga. Bukan hanya di kampung Selil saja, tapi juga di kampung tetangga, Kampung Kindiki. Pendekatan ini perusahaan lakukan kurang lebih selama satu tahun sampai tahun 2011. Tahun 2012, perusahaan mulai buka lahan untuk persemaian bibit sawit. Ternyata lahan yang dibuka bukan saja untuk persemaian bibit sawit, tapi sekaligus untuk perkebunan kelapa sawit.

Luas areal wilayah adat Wambon Tekamerop di Kampung Selil yang perusahaan buka 6.636 Hektar. kami kurang dapat informasi berkaitan dengan rencana kerja perusahaan di wilayah adat kami.

Sampai saat ini, kami belum dapat dokumen AMDAL dari perusahaan. Waktu sidang AMDAL juga tidak ada warga Kampung Selil yang tahu dan ikuti sidang ini. Sebagai pemilik wilayah adat, harusnya kitorang juga tahu.

Sampai saat ini, CSR belum maksimal, padahal sudah 5 tahun perusahaan beroperasi. Kebutuhan atau permintaan warga yang merupakan kewajiban perusahaan berupa beasiswa bagi anak sekolah dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, bantuan untuk lansia, perumahan, dan lain-lain sampai sekarang belum berjalan. Anak-anak Kampung Selil tidak ada yang dipekerjakan oleh perusahaan. Kalaupun ada, itu dari kampung sebelah, dan jadi buruh kasar, bukan jadi karyawan.

Tahun 2012, kami tuntut perusahaan untuk bayar ganti rugi. Persoalan ganti rugi tanah ini sampai sekarang belum selesai 100%.

Perusahaan buka lahan, tanpa persetujuan kami. Kesepakatan justru dilakukan dengan kampung tetangga tanpa libatkan kami. kami akhirnya tuntut perusahaan bayar sekitar 7 milyar rupiah, dibagi kepada tiga (3) marga besar: Mahuze, Basik-Basik, dan kami sendiri dari Wambon Tekamerop.

Dari 7 milyar itu, perusahaan kasih turun sampai kurang lebih 1 milyar rupiah. kami dapat 300-an juta rupiah yang dibagi lagi kepada 5 sub marga. Jadi masing-masing sub marga dapat kurang lebih 60 juta rupiah.

tuntutan kami ini secara administrasi tidak dipenuhi perusahaan. Kami minta ganti rugi, yang ditanggapi kubikasi kayu saja.

Kami tidak puas dengan hal ini. Karena negosiasi dalam bentuk pelepasan dan lain-lain itu kami sama sekali tidak pernah tanda tangan.

Dampak Negatif

Dampak-dampak lingkungan sudah mulai kami rasakan. Dulu Kali Bian itu jernih. kami bisa mandi dan konsumsi airnya. Ketika perusahaan masuk, kebetulan posisinya ada di Kepala Kali Bian, limbahnya mengalir langsung ke kami puya Kampung Selil. Ini sangat dimungkinkan karena jarak dari pabrik ke Kampung Selil hanya 3 KM.

kami sekarang rasa susah. Hutan hilang, tempat cari makan sudah tidak ada lagi. kami kehilangan hak, diambil oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, yang cuma mau untung saja tapi mengorbankan masyarakat adat.

Linus Omba, Warga Kampung Selil, 11/8/2017

Trackback from your site.

Leave a comment

Prioritas Program

Chart
  • 01 Penegakan keadilan dan Demokratisasi
  • 02 Membangun Budaya Damai
  • 03 Keutuhan Alam Ciptaan
  • 04 Perlindungan Perempuan dan Anak

Partner Links

  • Link Mitra 1
  • Link Mitra 2
  • Link Mitra 3
  • Link Mitra 4
  • Link Mitra 5
  • Link Mitra 6