PEMUDA DAN TANTANGAN KEBANGSAAN

Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

SKP KAME-Bung Karno pernah berkata, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Pemuda, menurut Bung Karno sangat spesial, sosok yang berani, bertanggung jawab, cerdas, kreatif, pantang mundur, berjiwa kepemimpinan, dan pembawa perubahan.

Kita tentu ingat perjalanan sejarah bangsa ini yang menempatkan peran pemuda sebagai pilar dan motor untuk mencapai kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Di mulai dari Budi Utomo tahun 1908, Sumpah pemuda tahun 1928, hingga reformasi tahun 1998 yang menumbangkan rezim orde baru, semuanya tidak lepas dari peran pemuda sebagai motor penggerak perubahan.

72 tahun sudah Republik Indonesia merdeka. Lewat perjuangan, keringat, darah, dan air mata kemerdekaan dapat kita raih. Setelah 72 tahun Indonesia merdeka, ternyata kita masih menghadapi berbagai tantangan yang terus saja merong-rong kehidupan berbangsa dan bernegara.

Akhir-akhir ini kita disuguhkan dengan korupsi, kolusi dan nepotisme yang menurut saya sudah sangat akut. Banyak pejabat publik mulai dari anggota DPR, BUMN, sampai kepala daerah yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi karena kasus KKN. Beberapa diantaranya bahkan tertangkap tangan. Ada lagi kasus suap yang ternyata melibatkan oknum dalam institusi penegak hukum. Rakyat akhirnya bertanya-tanya, kalau institusi penegak hukum saja melanggar hukum, lantas siapa lagi yang akan mengawal hukum di negeri ini?

Selain kasus-kasus KKN, hampir setiap saat kita dengar tindakan kekerasan atas nama suku, ras, dan agama. Pihak-pihak yang merasa paling benar melukai saudara se-bangsanya dengan melakukan intimidasi hanya karena perbedaan identitas dan keyakinan.

Publik di Indonesia juga gaduh karena ujaran kebencian (hate speech) yang merajalela melalui media sosial. Orang dengan gampangnya memaki-maki, mengeluarkan ujaran yang melukai sesama. Menurut Surat Edaran Kapolri No. 6/X/2015 tentang Ujaran Kebencian ada 7 bentuk ujaran kebencian: penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, memprovokasi, menghasut, dan menyebarkan berita bohong. Beberapa orang ‘diamankan’ Polisi karena menyampaikan konten hate speech. Salah satunya, Tamim Pardede yang dimankan Polisi setelah mengungah konten bermuatan ujaran kebencian di youtube. Adalagi kakak beradik Jamran dan Rizal dijatuhi hukuman penjara 6 bulan 15 hari akibat mengungah twit bermuatan sentimen negatif terhadap etnis Tionghoa.

Terkait berita bohong ini, yang terbaru bahkan ada kelompok SARACEN yang memang dibayar untuk menyebarkan berita bohong atau hoax. Salah satunya contoh nyata keterlibatan kelompok ini dan sukses adalah kasus Ahok yang akhirnya dijebloskan ke penjara.

Berbagai tantangan di atas, tentu saja berpotensi mencabik-cabik kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita yang hidup aman, damai, dan tentram bisa saling memusuhi satu dengan yang lainya. Timbul rasa cemas, was-was dan khawatir kalau-kalau kita yang jadi korban.

Sebagai pemuda, kita dituntut untuk menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah dengan melakukan tindakan preventif.

Kita harus bisa mengisi kemerdekaan yang sudah diperjuangkan pendahulu kita dengan berbagai prestasi sesuai kemampuan kita masing-masing. Lebih baik menyalakan lilin, dari pada mengutuki kegelapan. Lebih baik berbuat sesuatu dari pada hanya diam dan menggerutu tiada henti.

Laurens Doderang, Pemuda Kampung Kurik, 20/8/2017

Trackback from your site.

Leave a comment

Prioritas Program

Chart
  • 01 Penegakan keadilan dan Demokratisasi
  • 02 Membangun Budaya Damai
  • 03 Keutuhan Alam Ciptaan
  • 04 Perlindungan Perempuan dan Anak

Partner Links

  • Link Mitra 1
  • Link Mitra 2
  • Link Mitra 3
  • Link Mitra 4
  • Link Mitra 5
  • Link Mitra 6