Written by Admin SKP-KAME. Posted in Publikasi

 

SKP KAME-Sang kakak, Alexius Impurung Mendur yang menjabat sebagai kepala bagian fotografi kantor berita Jepang Domei juga mendengar hal serupa. Dedua Mendur bersaudara ini pun segera membawa kamera mereka dan mengambil rute terpisah menuju kediaman yang dimaksud.

Dari tiga frame film yang tersisa, Frans berhasil mengabadikan tiga foto. Foto pertama yakni ketika Soekarno membaca teks proklamasi. Foto kedua, ketika Latief Hendraningrat, anggota PETA (Pembela Tanah Air) mengibarkan bendera Merah Putih di halaman kediaman Terauchi. Foto ketiga, gambaran suasana upacara para pemuda ketika sang Merah Putih tengah dikibarkan.

Ketika upacara selesai, Mendur bersaudara secepatnya meninggalkan lokasi proklamasi. Mereka diburu tentara Jepang. Tentara jepang berhasil menangkap Alex Mendur dan menyita foto-foto yang berhasil didapatnya. Namun keberuntungan masih berpihak kepada Frans Mendur. Ia berhasil meloloskan diri dan sempat mengubur negatif foto di tanah dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor Harian Asia Raya. Frans tertangkap kemudian, namun ia mengaku negatif foto itu sudah diambil barisan pelopor.

Perjuangan duo Mendur belum selesai sampai di situ, meskipun negatif foto berhasil diselamatkan, tetapi foto itu masih mentah.

Masih perlu dicuci dan dicetak. Perjuangan mencuci dan mencetak pun tak mudah. Mereka harus diam-diam menyelinap di malam hari, memanjat pohon, sampai melompati pagar guna sampai di kantor Domei (sekarang kantor berita Antara). Foto bersejarah itu kemudian baru dapat dipublikasikan pada 20 Februari 1946.

Bisa dibayangkan apa jadinya jika Alex Mendur dan Frans Mendur tidak berhasil menyelamatkan foto dokumentasi hari proklamasi? Meskipun kehadiran mereka saat proklamasi tidak begitu diperhatikan, tapi berkat foto yang mereka ambil dan berhasil selamatkan, seluruh warga Indonesia bisa mengenang hari proklamasi melalui foto. Pada tahun 2009, barulah mereka dianugerahi penghargaan Bintang Jasa Utama oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

Tugu Pers Mendur

Tugu Pers Mendur yang diresmikan tahun 2013 menjadi satu-satunya monumen yang didirikan untuk mengenang jasa duo Mendur. Monumen tersebut dapat dijumpai di kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangko Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Selain Tugu Pers Mendur, disana juga terdapat sebuah rumah yang di dalamnya terdapat 113 foto hasil jepretan Mendur Bersaudara

Sang kakak, Alexius Impurung Mendur yang menjabat sebagai kepala bagian fotografi kantor berita Jepang Domei juga mendengar hal serupa. Dedua Mendur bersaudara ini pun segera membawa kamera mereka dan mengambil rute terpisah menuju kediaman yang dimaksud.

Dari tiga frame film yang tersisa, Frans berhasil mengabadikan tiga foto. Foto pertama yakni ketika Soekarno membaca teks proklamasi. Foto kedua, ketika Latief Hendraningrat, anggota PETA (Pembela Tanah Air) mengibarkan bendera Merah Putih di halaman kediaman Terauchi. Foto ketiga, gambaran suasana upacara para pemuda ketika sang Merah Putih tengah dikibarkan.

Ketika upacara selesai, Mendur bersaudara secepatnya meninggalkan lokasi proklamasi. Mereka diburu tentara Jepang. Tentara jepang berhasil menangkap Alex Mendur dan menyita foto-foto yang berhasil didapatnya. Namun keberuntungan masih berpihak kepada Frans Mendur. Ia berhasil meloloskan diri dan sempat mengubur negatif foto di tanah dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor Harian Asia Raya. Frans tertangkap kemudian, namun ia mengaku negatif foto itu sudah diambil barisan pelopor.

Perjuangan duo Mendur belum selesai sampai di situ, meskipun negatif foto berhasil diselamatkan, tetapi foto itu masih mentah. Foto Alexius Impurung Mendur dan Frans Mendur Sumber: goodnewsfromindonesia.id

Trackback from your site.

Leave a comment

Prioritas Program

Chart
  • 01 Penegakan keadilan dan Demokratisasi
  • 02 Membangun Budaya Damai
  • 03 Keutuhan Alam Ciptaan
  • 04 Perlindungan Perempuan dan Anak

Partner Links

  • Link Mitra 1
  • Link Mitra 2
  • Link Mitra 3
  • Link Mitra 4
  • Link Mitra 5
  • Link Mitra 6